Listrik Padam 15 Jam di Langsa, Warga Terisolasi Tanpa Informasi Pemulihan
Baca dalam 60 detik
- Pemadaman listrik melanda Kota Langsa, Aceh, selama hampir 15 jam sejak Jumat malam, mengganggu aktivitas warga dan komunikasi.
- Seorang ibu rumah tangga, Ayu Gustina, terpaksa bertahan sendirian bersama balitanya tanpa kepastian kapan listrik kembali menyala.
- Belum ada komunikasi dari pemerintah daerah kepada warga mengenai progres pemulihan, memicu kekhawatiran akan dampak sosial dan ekonomi.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6623439/original/022428900_1779454095-WhatsApp_Image_2026-05-22_at_19.41.54.jpeg)
Kota Langsa, Aceh, mengalami pemadaman listrik massal yang berlangsung hampir 15 jam, sejak Jumat (22/5/2026) pukul 18.54 WIB hingga Sabtu pagi. Gangguan aliran listrik PLN ini membuat sebagian besar wilayah kota gelap gulita, memicu keluhan warga terkait sulitnya beraktivitas dan hilangnya sinyal telekomunikasi.
Salah seorang warga Kampoeng Tengoeh, Ayu Gustina, mengaku harus bertahan sendirian bersama anaknya yang berusia empat tahun. Suaminya tengah berada di Banda Aceh, sementara anak sulungnya bersekolah di pondok pesantren. βSaya bingung karena hanya berdua dengan anak kecil. Belum ada petugas yang datang memberi penjelasan,β ujarnya saat dihubungi.
Menurut Ayu, lampu di rumahnya mulai berkedip-kedip menjelang salat Maghrib, lalu padam total. Sejak itu, tidak ada informasi resmi dari PLN maupun pemerintah daerah mengenai kapan listrik akan pulih. Sinyal internet pun hilang timbul, memperparah isolasi warga di tengah kegelapan.
Kondisi ini menyoroti kerentanan infrastruktur kelistrikan di daerah, terutama saat tidak ada komunikasi darurat yang memadai. Warga seperti Ayu terpaksa mengandalkan cadangan seadanya, sementara aktivitas ekonomi dan sosial lumpuh total. βSemoga pemerintah dan pemda terkait segera menormalkan kembali listrik di daerah berdampak,β harap Ayu.
Kejadian ini juga mengingatkan pentingnya transparansi informasi dari operator listrik dan pemerintah daerah saat terjadi gangguan besar. Tanpa kepastian, warga semakin kesulitan merencanakan langkah darurat, terutama bagi mereka yang tinggal sendirian dengan anak kecil. Ke depan, perlu ada standar prosedur komunikasi yang lebih ketat agar pemadaman tidak menimbulkan kepanikan yang berkepanjangan.



