Gempa M5,3 Guncang Bengkulu Selatan, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami
Baca dalam 60 detik
- Gempa tektonik M5,3 melanda Bengkulu pada Sabtu malam dengan episenter di laut 44 km barat daya Bengkulu Selatan.
- Guncangan dirasakan di sejumlah daerah dengan skala III-IV MMI, namun hingga kini belum ada laporan kerusakan berarti.
- BMKG mengonfirmasi gempa dangkal akibat subduksi lempeng dan tidak memicu tsunami, serta belum terdeteksi gempa susulan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,3 mengguncang wilayah Bengkulu pada Sabtu (23/5/2026) pukul 19.40 WIB. Gempa tektonik ini berpusat di laut dengan kedalaman 15 kilometer dan tidak berpotensi tsunami.
Berdasarkan analisis BMKG, episenter gempa terletak pada koordinat 4,67 Lintang Selatan dan 102,57 Bujur Timur, tepatnya di laut sekitar 44 kilometer barat daya Bengkulu Selatan. Kedalaman hiposenter yang relatif dangkal mengindikasikan gempa ini dipicu oleh aktivitas subduksi lempeng. Mekanisme sumber menunjukkan pergerakan geser naik atau oblique thrust.
Guncangan dirasakan di sejumlah kabupaten/kota dengan skala intensitas bervariasi. Bengkulu Selatan, Kaur, dan Seluma mencatat skala III-IV MMI, yang berarti getaran dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah pada siang hari. Sementara itu, Kepahiang, Rejang Lebong, dan Musi Rawas merasakan skala III MMI, setara dengan getaran seperti truk melintas.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menyatakan bahwa hingga pukul 20.00 WIB belum ada laporan kerusakan akibat gempa tersebut. Hasil pemodelan juga menegaskan gempa tidak memicu tsunami. "Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan. Hasil monitoring BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempa susulan," ujarnya dalam siaran pers.
Meski tidak menimbulkan kerusakan signifikan, gempa ini menjadi pengingat akan tingginya aktivitas seismik di wilayah Bengkulu yang berada di zona subduksi. BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan waspada terhadap kemungkinan gempa susulan, meskipun hingga saat ini belum terdeteksi. Informasi resmi hanya bersumber dari BMKG untuk menghindari hoaks.



