Jogja Financial Festival 2026: Perbankan dan Pasar Modal Dorong Inklusi Keuangan Generasi Muda
Baca dalam 60 detik
- Jogja Financial Festival 2026 menghadirkan diskusi tentang transformasi digital perbankan dan investasi pasar modal untuk generasi muda.
- Para bankir HIMBARA memaparkan lonjakan transaksi digital harian hingga Rp32 triliun, menandakan pergeseran perilaku keuangan masyarakat.
- Pemerintah dan BUMN memanfaatkan pasar keuangan melalui SBN dan pembiayaan infrastruktur untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Yogyakarta menjadi pusat perbincangan industri keuangan nasional melalui gelaran Jogja Financial Festival 2026 yang berlangsung di Jogja Expo Center. Acara yang mengusung tema edukasi dan pameran ini menyasar generasi muda agar lebih memahami produk perbankan, investasi di pasar modal, serta peran pasar keuangan dalam perekonomian. Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, menyambut antusiasme masyarakat yang tinggi terhadap kegiatan ini dan berharap acara serupa dapat rutin digelar untuk mendorong ekonomi kerumunan yang menjadi ciri khas pertumbuhan Jogja.
Dalam sesi Business Talks yang menghadirkan para direktur bank anggota HIMBARA, transformasi digital menjadi sorotan utama. Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, mengungkapkan bahwa layanan BRImo kini mencatat transaksi harian mencapai Rp32 triliun, atau setara Rp7.500 triliun per tahun. Angka ini menunjukkan betapa masifnya adopsi perbankan digital di Indonesia. Senada dengan itu, Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini, menyebut Livin' mampu menembus 13 juta transaksi harian pada periode tertentu, setara dengan 4,5 miliar akses tahunan. Ia menekankan bahwa tanpa digitalisasi, volume tersebut tidak mungkin dilayani secara konvensional.
Pembahasan berlanjut pada peran bank dalam pembiayaan perumahan. Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menjelaskan bahwa program KPR subsidi menyasar kelompok masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dengan batas maksimal penghasilan tertentu. Sementara itu, bagi desil 1-2 yang belum bankable, pemerintah menyalurkan Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS). Skema ini menjadi instrumen penting untuk mengurangi backlog kepemilikan rumah. Di sisi lain, BNI melalui Direktur Treasury & International Banking, Abu Santosa Sudradjad, memposisikan delapan financial center dan 10 cabang internasionalnya sebagai jembatan bisnis Indonesia dengan pasar global.
Direktur Utama Bank Syariah Indonesia, Anggoro Eko Cahyo, menambahkan bahwa perbankan syariah berperan sebagai enabler pertumbuhan ekonomi yang adil dan berkelanjutan. Fokus BSI adalah mendorong UMKM melalui pembiayaan yang tidak hanya mengejar profit, tetapi juga dampak sosial. Sementara itu, PJS Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, optimistis pasar modal Indonesia tumbuh di 2026 seiring tren peningkatan investor muda. Ia mencatat jumlah investor naik dari 4-5 juta saat pandemi menjadi 10 juta, dan kini mencapai 27,4 juta—tumbuh dua kali lipat dalam lima tahun.
Pemerintah juga memanfaatkan pasar keuangan melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN). Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu, Suminto, mengungkapkan bahwa 85-87% pembiayaan utang APBN berasal dari SBN, bukan pinjaman luar negeri. Hal ini menunjukkan kemandirian fiskal. Di sektor infrastruktur, PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) turut membiayai proyek strategis seperti Tol Jogja-Solo dan Rumah Sakit Akademis UGM. Direktur Utama SMI, Reynaldi Hermansjah, menegaskan peran perusahaan dalam mendukung pembangunan nasional melalui skema pembiayaan yang inovatif.
Festival ini menjadi bukti bahwa sinergi antara perbankan, pasar modal, dan pemerintah mampu memperkuat literasi keuangan sekaligus mendorong inklusi. Dengan transaksi digital yang terus melonjak dan jumlah investor yang bertambah, prospek ekonomi Indonesia ke depan tampak semakin solid.



