Dari Wrexham hingga Macclesfield: 10 Kejutan Terbesar dalam Sejarah Piala FA
Baca dalam 60 detik
- Piala FA menjadi ajang pembuktian tim non-unggulan, dengan kejutan seperti kemenangan Wigan atas Manchester City di final 2013 dan Wimbledon atas Liverpool di 1988.
- Macclesfield, tim divisi enam, menciptakan sejarah dengan menyingkirkan juara bertahan Crystal Palace pada musim 2025/26, menjadi kejutan terbesar dalam kompetisi.
- Kejutan-kejutan ini tidak hanya mengubah nasib klub kecil, tetapi juga memperkuat reputasi Piala FA sebagai turnamen paling demokratis di sepak bola Inggris.

Piala FA telah lama dikenal sebagai kompetisi yang penuh kejutan, di mana tim-tim kecil mampu menjungkulkan raksasa. Dalam sejarahnya yang panjang, sejumlah pertandingan menjadi legenda karena faktor kejutan yang luar biasa. Berikut adalah sepuluh kejutan terbesar yang pernah terjadi, dinilai dari dampak dan nilai historisnya.
Salah satu momen paling ikonik terjadi pada final 2013, ketika Wigan Athletic yang terancam degradasi berhasil mengalahkan Manchester City 1-0 berkat gol Ben Watson di menit ke-91. Kemenangan ini menjadi ironis karena tiga hari kemudian Wigan justru terdegradasi dari Premier League, menjadikan mereka satu-satunya klub yang memenangkan Piala FA sekaligus turun kasta di musim yang sama.
Pada 1988, Wimbledon yang dikenal dengan gaya keras 'Crazy Gang' mempermalukan Liverpool, tim terkuat era 80-an, di final. Gol Lawrie Sanchez dan penyelamatan penalti Dave Beasant memastikan kemenangan 1-0, yang diabadikan oleh komentator John Motson dengan kalimat, "The Crazy Gang have beaten the Culture Club."
Kejutan lain datang dari Leeds United yang saat itu berada di League One, ketika mereka menaklukkan Manchester United di Old Trafford pada putaran ketiga 2010. Gol tunggal Jermaine Beckford membuat Sir Alex Ferguson mengakui timnya lengah. Sementara itu, Wrexham yang berada di papan bawah Divisi Empat pada 1992 berhasil membalikkan keadaan melawan Arsenal berkat gol telat Steve Watkin, setelah sebelumnya tertinggal. Kemenangan itu menjadi titik balik yang menyelamatkan Wrexham dari degradasi.
Pada 2003, Shrewsbury Town yang dilatih legenda Everton, Kevin Ratcliffe, menaklukkan Everton 2-1 berkat dua gol Nigel Jemson. Namun, musim mereka berakhir pahit dengan degradasi dari Football League. Bournemouth di bawah asuhan Harry Redknapp juga mencatat sejarah pada 1984 dengan mengalahkan Manchester United 2-0, yang disebut sebagai 'leveler' sejati karena Bournemouth dinilai lebih unggul.
Final 1973 menyaksikan Sunderland yang berada di Divisi Dua mengalahkan Leeds United berkat penyelamatan gemilang Jim Montgomery. Manajer Sunderland, Bob Stokoe, mengaku tak akan pernah merasakan momen seindah itu lagi. Pada 2015, Bradford City yang tertinggal 0-2 dari Chelsea di Stamford Bridge berhasil bangkit dan menang 3-2, dengan gol dari Jonathan Stead dan Mark Yeates.
Sutton United, tim non-liga, mengejutkan Coventry City pada 1989, hanya dua tahun setelah Coventry memenangkan Piala FA. Manajer Barrie Williams menyebut hasil itu akan menggema di seluruh sepak bola. Kejutan non-liga lainnya terjadi pada 2013 saat Luton Town mengalahkan Norwich City.
Kejutan-kejutan ini membuktikan bahwa Piala FA tetap menjadi panggung bagi tim underdog untuk menuliskan kisah heroik. Dengan format yang memungkinkan klub dari semua level berpartisipasi, kompetisi ini terus mempertahankan 'magic' yang sulit ditemukan di turnamen lain. Meski beberapa tim harus terdegradasi setelah sukses, momen kemenangan mereka tetap abadi dalam ingatan penggemar sepak bola.



