Mahasiswa Ehime University Gagas Reformasi Menu Makan Siang Sekolah di Saipan untuk Tekan Limbah Pangan
Baca dalam 60 detik
- Proyek 'Marianas Kyushoku' melibatkan mahasiswa Jepang dan pemangku kepentingan lokal untuk mengatasi tingginya sisa makanan di sekolah-sekolah Saipan.
- Survei menunjukkan 65% makanan terbuang dalam sehari, dengan waktu makan siswa yang sangat singkat—hampir separuh hanya duduk kurang dari lima menit.
- Rencana aksi mencakup 'model week' yang mengatur ulang kebiasaan ngemil sebelum makan dan sistem piket penyajian, ditargetkan berjalan tahun ajaran 2026.

Mahasiswa Ehime University, Jepang, menggagas inisiatif bernama Marianas Kyushoku Project untuk menekan angka pemborosan pangan di sekolah-sekolah Saipan, wilayah Persemakmuran Kepulauan Mariana Utara. Proyek yang berjalan sejak tahun akademik 2024 ini berfokus pada perbaikan sistem makan siang sekolah yang dinilai menghasilkan limbah dalam jumlah besar.
Sakurako Inoue, mahasiswi teknik tahun keempat yang telah empat kali mengunjungi Saipan, mengaku terkejut melihat banyaknya makanan yang tidak dihabiskan. “Di Jepang kami diajarkan menghabiskan semua yang ada di piring, jadi perbedaan ini sangat terasa,” ujarnya. Data awal menunjukkan sekitar 80% siswa menyisakan sebagian porsi makannya, baik saat sarapan maupun makan siang.
Proyek ini lahir dari program pelatihan lintas budaya yang sudah berlangsung lebih dari sepuluh tahun, melibatkan 17 universitas Jepang. Mahasiswa yang awalnya belajar komunikasi dan kepemimpinan di lingkungan multibahasa mulai menyadari problem struktural di dapur sekolah Saipan. Mereka kemudian melakukan riset dua kali setahun, berdiskusi dengan dinas pendidikan setempat, sekolah, dan petugas gizi.
Temuan lain memperlihatkan waktu makan siswa sangat terbatas: 46,4% siswa hanya duduk di kantin tidak lebih dari lima menit, 45% antara lima hingga sepuluh menit, dan sisanya maksimal 15 menit. Padahal, survei terhadap 73% siswa mengaku berusaha menghabiskan makanan, namun 29% lainnya tidak terlalu khawatir jika menyisakan piring.
“Apa yang terasa normal bagi kita belum tentu normal di tempat lain. Kami ingin menerima perbedaan sistem dan nilai, lalu memikirkan langkah konkret yang bisa diterapkan,” kata Shinya Murata, dosen pembimbing proyek dan pakar teori kepemimpinan.
Untuk menjawab tantangan itu, tim mengusulkan program “model week” yang akan mengubah kebiasaan siswa mengonsumsi camilan sebelum jam makan serta menerapkan sistem piket bergilir untuk penyajian dan pembersihan. Perubahan menu juga direncanakan. Target awal penerapan model ini adalah tahun ajaran 2026.
Ehime University juga akan meluncurkan mata kuliah praktis “Global Leadership IV” pada musim panas ini. Terdiri dari delapan sesi, kursus ini dirancang untuk memperdalam pemahaman mahasiswa tentang Kepulauan Mariana Utara sekaligus mengasah kemampuan berkomunikasi dan berkolaborasi dengan individu dari latar belakang beragam.
Inisiatif ini membuka perspektif baru bahwa masalah limbah pangan sekolah tidak semata-mata soal menu, melainkan juga menyangkut kebiasaan, durasi makan, dan sistem pelayanan. Jika berhasil, model ini berpotensi direplikasi di wilayah lain yang menghadapi persoalan serupa.



