TNI Kirim 744 Prajurit ke Lebanon: Misi Perdamaian di Tengah Risiko Tinggi
Baca dalam 60 detik
- Markas Besar TNI memberangkatkan 744 prajurit Satgas Kontingen Garuda untuk bergabung dalam misi UNIFIL di Lebanon Selatan.
- Panglima TNI Agus Subiyanto menekankan pentingnya profesionalisme dan kepatuhan terhadap SOP, serta peran aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.
- Pengiriman ini terjadi setelah empat prajurit TNI gugur dalam insiden terpisah akibat serangan di Lebanon pada Maret-April 2026.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6667473/original/063445400_1779493817-8a7bbb8e-f7b8-4279-ab0e-f3725f38575b.jpg)
Markas Besar TNI secara resmi memberangkatkan 744 personel sebagai bagian dari Satgas Kontingen Garuda (Konga) untuk misi perdamaian PBB di Lebanon, United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Langkah ini menegaskan kembali komitmen Indonesia dalam menjaga stabilitas global, meskipun risiko keamanan di wilayah operasi masih tinggi.
Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto dalam keterangan persnya, Sabtu (23/5/2026), menyebut penugasan ini sebagai kehormatan sekaligus amanah besar yang membawa nama baik bangsa di forum internasional. Ia meminta seluruh prajurit untuk menjaga profesionalisme, disiplin, integritas, serta mematuhi Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku. “Prajurit Satgas TNI Konga UNIFIL juga diharapkan aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan seperti pelayanan kesehatan dan bantuan pendidikan sebagai bagian dari implementasi misi perdamaian dunia,” ujarnya.
Pengiriman kali ini menjadi sorotan karena terjadi tak lama setelah empat prajurit TNI gugur dalam insiden terpisah di Lebanon. Praka (Anumerta) Farizal Rhomadhon dan Kopral (Anumerta) Rico Pramudia tewas dalam serangan proyektil tank di pangkalan UNIFIL Adchit Al Qusayr pada 29 Maret 2026. Rico sempat dirawat intensif di Rumah Sakit St. George, Beirut, sebelum akhirnya meninggal pada 24 April 2026. Sementara itu, Mayor Inf (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar dan Serka (Anumerta) Muhammad Nur Ichwan gugur dalam ledakan yang menghantam konvoi logistik UNIFIL di dekat Bani Hayyan, Lebanon Selatan, pada 30 Maret 2026. Insiden-insiden ini menunjukkan tingginya risiko yang dihadapi pasukan perdamaian di tengah konflik berkepanjangan antara Israel dan Hizbullah.
Dalam konteks yang lebih luas, pengiriman 744 prajurit ini mencerminkan strategi Indonesia untuk terus berkontribusi dalam misi PBB meskipun menghadapi tantangan keamanan. Para analis menilai bahwa keberadaan Satgas Konga tidak hanya penting bagi stabilitas Lebanon Selatan, tetapi juga memperkuat posisi diplomasi Indonesia di forum multilateral. Ke depan, TNI diharapkan dapat meningkatkan perlindungan bagi personelnya, termasuk melalui evaluasi prosedur keamanan dan koordinasi yang lebih erat dengan UNIFIL.



