Langkawi Terjepit: Biaya Operasional Melonjak, Wisatawan Asing Mulai Menghindar
Baca dalam 60 detik
- Kenaikan harga bahan bakar akibat konflik global memaksa pelaku usaha wisata bahari di Langkawi menaikkan tarif, menekan daya saing destinasi.
- Penurunan jumlah wisatawan asing yang signifikan mengancam sektor pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi pulau tersebut.
- Tanpa intervensi kebijakan yang tepat, tren ini berpotensi memperlambat pemulihan pariwisata Malaysia pascapandemi.

Langkawi, destinasi wisata bahari andalan Malaysia, tengah menghadapi tekanan ganda: lonjakan biaya operasional dan menurunnya minat wisatawan asing. Para pengusaha lokal, mulai dari penyedia wahana jet ski hingga pemilik restoran, melaporkan penurunan jumlah pengunjung internasional yang cukup tajam dalam beberapa bulan terakhir.
Mohamad Zaki Najmi, pengelola Seeman Motorsport di Pantai Cenang, mengungkapkan bahwa kenaikan harga bahan bakar—yang dipicu oleh eskalasi konflik antara AS-Israel dan Iran—memaksanya menaikkan tarif sewa perahu. Tarif 30 menit berlayar kini menjadi US$30, naik dari sebelumnya US$25. "Biaya operasional perahu dan jet ski di laut jauh lebih tinggi dibandingkan kendaraan darat," ujarnya kepada media.
Kondisi ini diperparah oleh sepinya okupansi wisatawan. Zaki mengaku sudah tidak lagi memasang target pendapatan karena jumlah pengunjung yang tidak menentu. "Sekarang tidak banyak turis, dan kami sudah tidak punya target lagi," keluhnya. Fenomena serupa juga dirasakan oleh pelaku usaha lain di sektor akomodasi dan kuliner di pulau bebas bea tersebut.
Langkawi selama ini mengandalkan sektor pariwisata sebagai motor utama perekonomian. Namun, kombinasi antara kenaikan biaya perjalanan dan persepsi mahal di kalangan wisatawan asing mulai menggerus daya tarik pulau ini. Para analis menilai bahwa tanpa langkah strategis seperti subsidi bahan bakar untuk sektor wisata atau promosi agresif, Langkawi berisiko kehilangan pangsa pasar dibandingkan destinasi kompetitor di kawasan Asia Tenggara.
Ke depan, pemerintah Malaysia perlu mempertimbangkan kebijakan yang dapat meredam dampak kenaikan harga energi terhadap sektor pariwisata. Jika tidak, tren penurunan kunjungan ini bukan hanya akan merugikan pengusaha kecil, tetapi juga memperlambat pemulihan ekonomi nasional secara keseluruhan.



