Konflik Iran Mendorong Lonjakan Harga Tiket Pesawat, Ini Strategi Cerdas bagi Pelancong
Baca dalam 60 detik
- Perang AS-Israel dengan Iran memicu krisis pasokan minyak global, mendorong harga avtur melonjak hingga 209 dolar per barel dan memaksa maskapai mengurangi rute serta menaikkan tarif.
- Para ahli menyarankan pelancong untuk tidak menunda pemesanan tiket, menghindari kelas Basic Economy, dan memanfaatkan fleksibilitas tiket refundable guna mengantisipasi fluktuasi harga.
- Penggunaan poin rewards secara strategis—seperti transfer ke program loyalitas maskapai—dapat memberikan nilai lebih di tengah kenaikan biaya perjalanan.

Konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran mulai berdampak langsung pada sektor penerbangan global. Lonjakan harga minyak mentah akibat gangguan pasokan dari Teluk Persia telah mendorong biaya avtur ke level tertinggi, memaksa maskapai di berbagai belahan dunia menyesuaikan tarif dan mengurangi frekuensi penerbangan. Para pelancong yang merencanakan liburan akhir musim semi dan musim panas harus bersiap menghadapi biaya perjalanan yang lebih mahal dan pilihan rute yang semakin terbatas.
Kepala Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan bahwa negara-negara Eropa berpotensi mengalami kekurangan bahan bakar jet dalam hitungan minggu. Kondisi ini dapat memaksa maskapai di benua tersebut, serta operator yang melayani rute ke Eropa, untuk memangkas jadwal penerbangan secara signifikan. Data menunjukkan harga avtur global meroket dari sekitar 99 dolar per barel pada akhir Februari menjadi 209 dolar per barel di awal April. Akibatnya, sejumlah maskapai seperti Air Canada, United, Delta, Air France-KLM, SAS, Philippine Airlines, dan Cathay Pacific telah mengambil langkah penghematan, termasuk menangguhkan rute tertentu dan memberlakukan biaya tambahan bahan bakar.
Menurut Shye Gilad, mantan kapten penerbangan yang kini mengajar di sekolah bisnis Universitas Georgetown, maskapai cenderung mengambil sikap konservatif dalam lingkungan yang tidak menentu. "Sangat sulit bagi maskapai untuk membuat prediksi, sehingga harga kemungkinan akan tetap tinggi sampai situasi benar-benar stabil," ujarnya. Sementara itu, analis industri Henry Harteveldt dari Atmosphere Research Group menambahkan bahwa meskipun gencatan senjata tercapai, dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk memulihkan produksi dan distribusi avtur ke tingkat normal. Ketidakpastian ini diperparah oleh langkah Iran yang membatalkan keputusan membuka kembali Selat Hormuz, serta sikap Presiden AS yang tetap mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran.
Menghadapi situasi ini, para pakar perjalanan merekomendasikan strategi pemesanan yang lebih proaktif. Harteveldt menyarankan agar pelancong segera memesan tiket jika menemukan jadwal dan harga yang sesuai, namun dengan satu syarat: hindari kelas Basic Economy. Tiket termurah ini biasanya tidak memberikan refund atau kredit perjalanan jika dibatalkan setelah 24 jam, serta membatasi pilihan kursi dan bagasi. Sebaliknya, tiket Standard Economy atau refundable memberikan fleksibilitas lebih besar, termasuk kemungkinan membatalkan dan memesan ulang jika harga turun. "Jika Anda menemukan harga yang terjangkau, jangan tunda. Tapi jangan pernah memesan Basic Economy," tegas Harteveldt.
Untuk memaksimalkan anggaran, pelancong dapat menerapkan sejumlah kiat. Memesan tiket internasional dua hingga lima bulan sebelumnya, dan domestik tiga hingga enam minggu sebelumnya, masih menjadi patokan umum untuk mendapatkan harga terendah. Menghindari keberangkatan pada akhir pekan atau hari libur, serta memilih bandara hub yang lebih besar, juga dapat menekan biaya. Jika memungkinkan, bepergian hanya dengan tas kabin untuk menghindari biaya bagasi terdaftar yang baru dinaikkan oleh maskapai seperti Delta, American, United, Southwest, dan JetBlue.
Di sisi lain, Adam Morvitz, CEO points.me, mencatat bahwa jumlah poin yang dibutuhkan untuk banyak penerbangan belum meningkat setajam harga tiket. Maskapai masih perlu mengisi kursi, sehingga mereka menawarkan lebih banyak kursi dengan poin lebih sedikit. Pelancong yang memiliki poin rewards disarankan untuk mentransfernya ke program loyalitas maskapai, bukan menukarkan langsung melalui portal kartu kredit yang biasanya hanya memberi nilai 1 sen per poin. "Poin adalah bentuk kekayaan, dan konsumen harus menyadari bahwa poin meningkatkan daya beli," kata Morvitz. Ia juga merekomendasikan untuk memanfaatkan bonus pendaftaran kartu kredit perjalanan, yang seringkali cukup besar untuk menutupi biaya satu tiket setelah memenuhi persyaratan belanja minimum.
Ke depan, stabilitas harga tiket pesawat sangat bergantung pada dinamika geopolitik di Timur Tengah. Selama pasokan minyak belum pulih dan Selat Hormuz belum sepenuhnya terbuka, tekanan biaya akan terus membebani maskapai dan konsumen. Pelancong yang cermat dalam merencanakan perjalanan, memilih kelas tiket yang tepat, dan memanfaatkan rewards secara optimal akan lebih mampu menghadapi tantangan ini.



