Blackout Sumatera: Warga Banda Aceh Serbu Warung Kopi Bertenaga Genset
Baca dalam 60 detik
- Pemadaman listrik total di Aceh pada Jumat malam memicu gelombang warga berbondong-bondong ke warung kopi yang masih menyala berkat genset.
- Fenomena ini mengulang pola serupa saat bencana hidrometeorologi November 2025, di mana warung kopi menjadi pusat aktivitas dan omzetnya melonjak hingga tiga kali lipat.
- PLN mengerahkan ratusan personel untuk memulihkan suplai listrik, sementara warga mulai mengantisipasi pengeluaran ekstra akibat ketergantungan pada warkop.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6640671/original/082962300_1779475099-warkop.jpeg)
Pemadaman listrik total (blackout) yang melanda Provinsi Aceh pada Jumat, 22 Mei 2026, mendorong ribuan warga Kota Banda Aceh berbondong-bondong menuju warung kopi (warkop) yang masih beroperasi berkat generator listrik. Fenomena ini tidak hanya menjadi solusi darurat untuk mengisi daya perangkat elektronik dan mengakses internet, tetapi juga mencerminkan adaptasi sosial-ekonomi yang sudah terbentuk sejak bencana hidrometeorologi besar tahun sebelumnya.
Sejak listrik padam, warkop-warkop di Banda Aceh langsung dipenuhi pengunjung. Seorang warga yang ditemui di Warkop SMEA Lingke mengaku langsung mencari kedai kopi begitu lampu padam, dan mendapati tempat itu sudah penuh. Banyak warga membawa kabel ekstensi untuk mengecas ponsel dan perangkat lain sambil menikmati hidangan. "Kami bawa kabel karena tahu pemadaman satu Sumatera dari berita. Bahkan ada orang pada numpang ngecas HP, padahal tidak kenal," ujarnya.
Warga lain, Iskandar, menceritakan bahwa ia sempat berkeliling kota setelah listrik padam sebelum maghrib. Hampir semua kedai kopi yang memiliki genset penuh, bahkan banyak yang tidak mendapat kursi sehingga harus mencari warkop lain. "Hampir semua warkop penuh tadi, bahkan di jalan-jalan juga macet, tidak seperti biasanya lah," katanya. Situasi ini memaksa warga mengeluarkan biaya ekstra untuk makan di luar dan membeli pulsa internet, karena aktivitas rumah tangga seperti memasak terganggu.
Putra, pengelola Warkop Sirnagalih di kawasan Batoh, mengaku tidak terkejut dengan lonjakan pengunjung. Ia menyebut bahwa saat listrik normal, malam hari hanya beberapa kursi yang terisi. Namun saat blackout, semua kursi penuh karena orang membutuhkan listrik. Pengalaman saat bencana November 2025 membuatnya berinvestasi pada genset cadangan. "Makanya, pascabencana kemarin kita langsung beli genset untuk jaga-jaga mati listrik lagi. Dan tadi kami sudah siap, warkop tetap buka seperti biasa," jelasnya.
PLN Unit Induk Distribusi (UID) Aceh melalui Manager Komunikasi dan TJSL, Lukman Hakim, menyatakan bahwa pemadaman total disebabkan oleh gangguan pada sistem suplai listrik. PLN telah mengerahkan ratusan personel yang bekerja non-stop untuk memperbaiki dan menormalkan kembali aliran listrik. "Saat ini tim terus bekerja maksimal di lapangan guna menormalkan kembali aliran listrik," ujarnya.
Kejadian ini menyoroti kerentanan infrastruktur kelistrikan di Sumatera dan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi gangguan suplai. Di sisi lain, warung kopi telah menjelma menjadi pusat kegiatan vital saat krisis, menunjukkan ketangguhan sektor informal dalam menyediakan layanan dasar. Ke depan, investasi pada genset dan diversifikasi energi di tempat usaha menjadi strategi adaptasi yang kian relevan.



