Kekecewaan Korban Bom Atom Jepang Usai Konferensi NPT Kembali Gagal Capai Konsensus
Baca dalam 60 detik
- Konferensi peninjauan Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) di New York berakhir tanpa dokumen kesepakatan, memicu kekecewaan para penyintas bom atom Hiroshima dan Nagasaki.
- Perbedaan pendapat yang tak terselesaikan, terutama terkait program nuklir Iran, menjadi penyebab utama kegagalan konferensi yang berlangsung sebulan tersebut.
- Kegagalan ini dinilai sebagai kemunduran serius bagi upaya perlucutan senjata nuklir global, meskipun NPT tetap dianggap sebagai pilar utama rezim non-proliferasi.

Konferensi peninjauan Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) yang berlangsung selama sebulan di New York kembali berakhir tanpa menghasilkan dokumen konsensus, memicu kekecewaan mendalam di kalangan penyintas bom atom Jepang dan para pemimpin kota Hiroshima serta Nagasaki. Kegagalan ini menandai kelanjutan dari kebuntuan diplomatik yang telah berlangsung bertahun-tahun dalam upaya mengendalikan penyebaran senjata nuklir.
Jiro Hamasumi, sekretaris jenderal Nihon Hidankyo—organisasi utama penyintas bom atom Jepang yang meraih Nobel Perdamaian 2024—menyatakan penyesalan ekstrem atas hasil konferensi tersebut. Dalam konferensi pers daring, Hamasumi yang kini berusia 80 tahun dan selamat dari bom atom Hiroshima saat masih dalam kandungan ibunya, menyebut kegagalan ini sebagai kemunduran serius. Ia sebelumnya menyampaikan pidato di sesi organisasi non-pemerintah dalam konferensi yang membahas implementasi NPT.
Walikota Nagasaki, Shiro Suzuki, mengungkapkan kekecewaan kuatnya. “Saya sangat menyesal bahwa negara-negara penandatangan traktat gagal menunjukkan tekad mereka untuk mewujudkan dunia tanpa senjata nuklir secara tulus,” ujarnya kepada wartawan. Senada dengan itu, Walikota Hiroshima, Kazumi Matsui, dalam pernyataan resminya menyebut kegagalan menghasilkan dokumen akhir sebagai hal yang sangat disesalkan akibat perbedaan pandangan yang mendalam di antara peserta konferensi.
Di sela-sela konferensi, Nihon Hidankyo menggelar pameran di markas besar PBB yang menampilkan kehancuran akibat bom atom. Pameran ini menjadi pengingat nyata akan dampak kemanusiaan dari senjata nuklir, sekaligus seruan untuk aksi nyata.
Menteri Luar Negeri Jepang, Toshimitsu Motegi, menilai kegagalan konferensi sebagai hal yang sangat disesalkan, namun menekankan bahwa NPT tetap menjadi landasan rezim perlucutan senjata dan non-proliferasi nuklir. “Seiring dengan terus mendalamnya perpecahan dalam komunitas internasional mengenai perlucutan senjata nuklir, menjaga dan memperkuat NPT tetap sangat penting,” kata Motegi. Ia menambahkan bahwa Jepang akan terus mendorong upaya realistis dan praktis menuju dunia bebas nuklir.
Kegagalan konferensi ini menyoroti tantangan besar dalam diplomasi nuklir global, terutama di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat. Tanpa konsensus, masa depan rezim non-proliferasi menjadi semakin tidak pasti, sementara para penyintas bom atom terus mendesak tindakan nyata agar tragedi serupa tidak terulang.



