Putin Temui Xi di Beijing: China Jaga Keseimbangan Hubungan dengan Rusia dan AS
Baca dalam 60 detik
- Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan kunjungan kenegaraan ke China hanya berselang sepekan setelah Presiden AS Donald Trump bertemu Xi Jinping, menunjukkan dinamika diplomasi Beijing yang berusaha menjaga hubungan baik dengan kedua negara adidaya.
- Kunjungan ini menegaskan kembali kemitraan strategis Rusia-China yang semakin erat sejak invasi Ukraina, dengan China menjadi mitra dagang utama Rusia dan pembeli terbesar minyak serta gasnya.
- China memposisikan diri sebagai kekuatan netral yang mampu berdialog dengan semua pihak, memanfaatkan kunjungan Trump dan Putin untuk memperkuat stabilitas global dan kepentingan nasionalnya.

Presiden Rusia Vladimir Putin dijadwalkan tiba di Beijing pada Selasa dan Rabu untuk bertemu dengan Presiden China Xi Jinping, kurang dari sepekan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyelesaikan kunjungannya ke ibu kota China. Langkah ini mencerminkan upaya Beijing menjaga keseimbangan hubungan dengan dua kekuatan global utama.
Kremlin menyatakan bahwa agenda pertemuan mencakup pembahasan kerja sama ekonomi bilateral serta isu-isu internasional dan regional yang krusial. Kunjungan ini juga bertepatan dengan peringatan 25 tahun Perjanjian Persahabatan Sino-Rusia yang ditandatangani pada 2001. Para pengamat menilai kunjungan Putin bertujuan untuk meyakinkan mitra strategis lama China di tengah upaya Beijing memperbaiki hubungan dengan Washington.
Wang Zichen, wakil sekretaris jenderal lembaga think tank Center for China & Globalization di Beijing, menyatakan bahwa kunjungan Trump bertujuan menstabilkan hubungan bilateral terpenting di dunia, sementara kunjungan Putin untuk memperkuat kemitraan strategis jangka panjang. "Bagi China, kedua jalur ini tidak saling eksklusif," ujarnya.
Hubungan pribadi antara kedua pemimpin juga menjadi sorotan. Pada kunjungan sebelumnya di September 2025, Xi menyebut Putin sebagai "teman lama", sementara Putin memanggil Xi "teman terkasih". Pada April lalu, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov bertemu Xi di Beijing, di mana Xi menggambarkan hubungan bilateral sebagai sesuatu yang "berharga" di tengah konteks internasional saat ini. Xi menekankan perlunya kolaborasi strategis yang lebih kuat untuk mempertahankan kepentingan bersama dan menjaga persatuan negara-negara Global South.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan bahwa kunjungan Putin juga memberikan kesempatan bagi Rusia untuk mendapatkan informasi langsung dan bertukar pandangan dengan China mengenai pembicaraan dengan AS. Selama kunjungan Trump, Xi menyebut hubungan AS-China sebagai yang terpenting di dunia dan menekankan perlunya saling memandang sebagai mitra, bukan rival. Kedua negara sepakat untuk membangun kerangka kerja baru guna mengelola "hubungan China-AS yang konstruktif dan stabil secara strategis".
Wang dari Center for China & Globalization menambahkan, "Beijing menginginkan hubungan yang stabil dengan Barat, kepercayaan strategis yang berkelanjutan dengan Moskow, dan ruang diplomatik yang cukup untuk menampilkan diri sebagai kekuatan besar yang tidak memihak dan mampu berbicara dengan semua pihak."
Putin sendiri memuji hubungan bilateral Rusia-China sebagai kekuatan penyeimbang yang krusial dalam hubungan internasional. "Interaksi antara negara-negara seperti China dan Rusia tidak diragukan lagi berfungsi sebagai faktor pencegahan dan stabilitas," katanya. Ia juga menyambut baik dialog China dengan AS sebagai elemen penstabil bagi ekonomi global. "Kami hanya akan diuntungkan dari stabilitas dan keterlibatan konstruktif antara AS dan China," ujar Putin.
Ke depan, kunjungan ini menegaskan bahwa China berhasil menjalankan diplomasi multi-arah, memperkuat kemitraan dengan Rusia tanpa harus mengorbankan hubungan dengan AS. Strategi ini memungkinkan Beijing memainkan peran sentral dalam arsitektur keamanan dan ekonomi global, sembari melindungi kepentingan nasionalnya di tengah persaingan kekuatan besar.



