Puluhan Pelajar Temukan 'Harta Karun' Literasi Keuangan di Jogja FinFest 2026
Baca dalam 60 detik
- Jogjakarta Financial Festival 2026 menarik ribuan pelajar dengan booth interaktif yang menyajikan edukasi keuangan melalui permainan dan teknologi.
- Booth Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menjadi primadona berkat kuis berhadiah, foto AI, dan tantangan teka-teki silang yang mengasah pemahaman simpanan.
- Antusiasme peserta menunjukkan bahwa pendekatan gamifikasi efektif meningkatkan minat generasi muda terhadap literasi finansial.

Jogjakarta Financial Festival (Jogja FinFest) 2026 yang berlangsung di Jogja Expo Centre, Bantul, pada Jumat (22/5/2026) sukses menyedot perhatian pelajar dan mahasiswa. Mereka mengaku mendapatkan pengalaman berharga—bahkan disebut sebagai 'harta karun'—dari berbagai booth edukasi keuangan yang dikemas secara interaktif dan menghibur.
Ulfa, siswi SMA 10 Yogyakarta, mengaku pertama kali mengikuti festival finansial. Ia bersama rombongan sekolahnya mengunjungi booth Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (IDX), dan lainnya. "Ada game, follow Instagram dapat merchandise, spin wheel, sampai main VR. Yang paling seru di Bank Indonesia karena main tebak-tebakan uang dan VR cari harta karun," ujarnya.
Senada, mahasiswa asal Sleman, Ari Susilo, menyambangi hampir seluruh booth. Ia menilai festival ini memberikan kesan positif dan menambah wawasan finansial. "Pertama kali ikut acara begini, seru dan edukatif. Booth IDX, LPDP, dan Sampoerna paling menarik," katanya. Ari mengikuti rangkaian acara sejak pagi bersama teman-temannya dan mengaku mendapat pemahaman baru seputar ekonomi.
Booth Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) tercatat sebagai yang paling dipadati. Pengunjung tidak hanya mendapat pengetahuan tentang penjaminan simpanan, tetapi juga bisa mengikuti kuis interaktif, berfoto dengan latar AI yang memungkinkan mereka tampil mengenakan baju perang, serta bermain teka-teki silang digital. Mekanismenya sederhana: peserta memindai QR code, lalu menjawab dengan cepat dan tepat. Sepuluh pemain terbaik setiap putaran mendapatkan hadiah menarik.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pendekatan gamifikasi dan pemanfaatan teknologi mampu menjembatani kesenjangan literasi keuangan di kalangan generasi muda. Alih-alih presentasi satu arah, booth-booth tersebut menawarkan pengalaman langsung yang membuat konsep abstrak seperti investasi, tabungan, dan penjaminan simpanan menjadi lebih mudah dicerna.
Ke depan, inisiatif seperti Jogja FinFest diharapkan dapat direplikasi di daerah lain dengan skema yang lebih inklusif. Kolaborasi antara regulator, bursa, dan lembaga keuangan menjadi kunci untuk membangun fondasi literasi finansial sejak dini, sehingga generasi muda tidak hanya melek secara digital, tetapi juga cerdas dalam mengelola keuangan.



