Gempa Magnitudo 4,5 Guncang Enggano Bengkulu, BMKG Catat Satu Kejadian Hari Ini
Baca dalam 60 detik
- Gempa tektonik magnitudo 4,5 melanda wilayah Enggano, Bengkulu, pada Rabu siang dengan pusat di laut.
- Guncangan dirasakan di Kota Bengkulu pada skala MMI II, menunjukkan dampak terbatas pada bangunan.
- Indonesia sebagai zona seismik aktif menekankan pentingnya kesiapsiagaan dan mitigasi bencana.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5563441/original/050913800_1776869461-Gempa_Enggano.jpeg)
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan satu gempa bumi signifikan terjadi di wilayah Indonesia pada Rabu, 22 April 2026. Hingga pukul 21.30 WIB, hanya satu lindu tercatat, yaitu gempa berkekuatan magnitudo 4,5 yang berpusat di laut dekat Enggano, Provinsi Bengkulu.
Episenter gempa berada pada koordinat 4,65 Lintang Selatan dan 102,17 Bujur Timur, dengan kedalaman dangkal 10 kilometer. Pusat gempa terletak sekitar 78 kilometer utara Enggano. Guncangan dirasakan di Kota Bengkulu dengan intensitas II Modified Mercalli Intensity (MMI), yang berarti getaran dirasakan oleh beberapa orang dan benda ringan bergoyang. BMKG mengonfirmasi bahwa gempa ini tidak berpotensi tsunami.
Kejadian ini mengingatkan kembali pada posisi Indonesia yang berada di pertemuan lempeng tektonik aktif, menjadikannya salah satu negara paling rawan gempa di dunia. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), gempa bumi secara global menyebabkan sekitar 750.000 kematian antara 1998 dan 2017, dengan lebih dari 125 juta orang terdampak. Meskipun gempa tidak dapat dicegah, mitigasi dan kesiapsiagaan menjadi kunci untuk mengurangi risiko.
BMKG mendefinisikan gempa bumi sebagai pelepasan energi mendadak akibat patahan batuan di kerak bumi. Dampak yang mungkin timbul meliputi guncangan tanah, likuifaksi, tanah longsor, retakan, dan bahkan tsunami. Untuk itu, masyarakat diimbau untuk selalu memahami prosedur evakuasi dan mengikuti pedoman keselamatan sebelum, saat, dan setelah gempa.
Ke depan, penguatan infrastruktur tahan gempa dan edukasi publik secara berkelanjutan menjadi investasi penting bagi Indonesia. Dengan frekuensi kejadian yang tinggi, setiap gempa—sekecil apa pun—harus dijadikan momentum untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapan menghadapi potensi bencana yang lebih besar.



