Uni Eropa Siapkan Sanksi Baru untuk Iran Terkait Blokade Selat Hormuz
Baca dalam 60 detik
- Uni Eropa memperluas kerangka sanksi terhadap Iran sebagai respons atas penutupan Selat Hormuz yang dinilai melanggar hukum internasional.
- Langkah ini memungkinkan sanksi perorangan dan entitas berupa larangan perjalanan serta pembekuan aset, meski daftar target belum diumumkan.
- Blokade jalur minyak global ini memicu lonjakan harga energi dan mengancam stabilitas ekonomi dunia.

Uni Eropa secara resmi mengambil langkah maju menuju penerapan sanksi terhadap pejabat dan pihak yang bertanggung jawab atas blokade Selat Hormuz oleh Iran. Keputusan ini diumumkan pada Jumat (22/5) oleh Dewan Eropa, menyusul aksi Teheran yang menutup jalur pelayaran strategis tersebut sejak Februari lalu sebagai balasan atas serangan AS-Israel.
Dalam pernyataan resminya, Dewan Eropa menegaskan bahwa blokade itu bertentangan dengan hukum internasional. Oleh karena itu, Uni Eropa memperluas cakupan rezim sanksi yang sudah ada terhadap Iran, sehingga lebih banyak individu dan entitas dapat menjadi target. βUni Eropa kini dapat memberlakukan tindakan pembatasan lebih lanjut sebagai respons atas tindakan Iran yang mengganggu kebebasan navigasi di Selat Hormuz,β demikian bunyi pernyataan tersebut.
Sebelumnya, sanksi Brussels terhadap Iran difokuskan pada dukungan militer Teheran kepada Rusia dalam perang di Ukraina serta kepada kelompok bersenjata di Timur Tengah. Uni Eropa juga telah menjatuhkan sanksi terkait pelanggaran hak asasi manusia di Iran. Namun, langkah terbaru ini secara spesifik menyasar ancaman terhadap jalur perdagangan vital yang membawa seperlima produksi minyak dunia.
Meski demikian, Uni Eropa belum merinci individu atau entitas mana yang akan terkena sanksi baru yang mencakup larangan perjalanan dan pembekuan aset. Warga dan perusahaan Uni Eropa juga dilarang menyediakan dana, aset keuangan, atau sumber daya ekonomi lainnya kepada pihak yang masuk daftar hitam. Keputusan ini diambil setelah Iran secara efektif menutup Selat Hormuz, yang memicu gejolak ekonomi global dan kenaikan harga energi.
Para analis menilai bahwa langkah Uni Eropa ini merupakan sinyal keras bahwa blokade tersebut tidak dapat ditoleransi. Namun, efektivitas sanksi masih dipertanyakan mengingat hubungan ekonomi yang kompleks antara Iran dan beberapa negara anggota Uni Eropa. Ke depannya, Brussels diperkirakan akan terus memantau situasi dan siap menambah daftar sanksi jika Iran tidak mengubah kebijakannya.



