Trump Hentikan Serangan ke Iran Demi Negosiasi, Minyak Turun
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana serangan militer besar ke Iran atas permintaan sekutu Teluk yang meyakini kesepakatan damai sudah dekat.
- Keputusan ini langsung memicu penurunan harga minyak dunia, dari $108,83 menjadi $107,25 per barel, mencerminkan sensitivitas pasar terhadap ketegangan di Selat Hormuz.
- Iran mengeklaim langkah Trump sebagai bentuk ketakutan, sementara negosiasi nuklir masih menjadi ganjalan utama dengan isu saling percaya yang rendah.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penundaan serangan militer terhadap Iran yang semula dijadwalkan pada Selasa (19/5). Keputusan ini diambil setelah para sekutu AS di kawasan Teluk, termasuk Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, meminta waktu dua hingga tiga hari untuk memberi ruang bagi negosiasi yang dinilai mulai menunjukkan titik terang.
Dalam pernyataan di Gedung Putih, Trump mengungkapkan bahwa dirinya telah menyiapkan "serangan yang sangat besar" namun memilih untuk menundanya—"untuk sementara, mudah-mudahan selamanya." Ia menambahkan bahwa ada peluang baik untuk mencapai kesepakatan tanpa harus menggunakan kekuatan militer secara penuh. Meski demikian, Trump tetap menginstruksikan militer AS untuk siaga melancarkan serangan skala penuh kapan saja jika negosiasi gagal.
- Harga minyak mentah berjangka turun lebih dari $2 setelah pengumuman Trump, dari $108,83 menjadi $107,25 per barel.
- Iran telah menutup Selat Hormuz secara efektif, jalur vital pengiriman minyak dan gas global.
- AS mengalihkan 85 kapal dagang sejak pertengahan April akibat blokade di pelabuhan Iran.
- Serangan drone pada Minggu (17/5) memicu kebakaran di dekat pembangkit nuklir UEA, yang disebut sebagai "serangan teroris tak beralasan".
Keputusan ini bukan pertama kalinya Trump mengubah sikap terhadap Iran. Sejak gencatan senjata April lalu, ia beberapa kali memberi tenggat waktu yang kemudian diundur. Pola serupa terjadi pada awal perang, ketika ia mengindikasikan akan memberi kesempatan diplomasi namun akhirnya melancarkan serangan pada akhir Februari. Kali ini, Trump menyebut situasinya "sedikit berbeda" dan menilai jeda negosiasi sebagai "perkembangan yang sangat positif."
Di sisi lain, Iran mengecap langkah Trump sebagai "mundur karena ketakutan" melalui siaran televisi negara. Teheran mengklaim sistem pertahanan di Pulau Qeshm—pulau terbesar di Teluk Persia dengan 150.000 penduduk—telah diaktifkan pada Senin malam, namun situasi dinyatakan terkendali. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan mengungkapkan bahwa fokus utama negosiasi AS-Iran saat ini adalah membuka kembali Selat Hormuz, meskipun program nuklir Iran tetap menjadi isu sentral.
"Saat ini tidak ada situasi yang mengancam secara nyata. Namun untuk mempertahankan kondisi ini, para pihak harus mencapai dan menyelesaikan negosiasi nuklir di antara mereka sendiri," ujar Fidan dalam konferensi pers bersama mitranya dari Jerman di Berlin.
Fidan menambahkan bahwa sebagian besar uranium yang diperkaya Iran—yang berpotensi digunakan untuk senjata nuklir—telah terkubur di bawah terowongan yang runtuh akibat serangan bersama AS-Israel pada Juni lalu. Ia meyakini Iran pada prinsipnya tidak menolak kepatuhan terhadap persyaratan nuklir, namun masalahnya terletak pada imbalan, urutan, dan kondisi yang diminta. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran pekan lalu menyebut kurangnya kepercayaan sebagai hambatan terbesar dalam perundingan.
Dalam perkembangan terpisah, Trump juga telah berkomunikasi dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden China Xi Jinping terkait perang Iran. Meskipun proposal terbaru Iran disebut-sebut memuat konsesi nuklir, Trump dengan tegas menolaknya dan menyebutnya sebagai "sampah." Ke depannya, dinamika antara tekanan militer dan diplomasi akan terus menentukan stabilitas kawasan dan pergerakan harga energi global.



