Krisis Kepercayaan Hambat Negosiasi Iran-AS, Teheran Buka Peluang Mediasi China
Baca dalam 60 detik
- Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut kurangnya kepercayaan sebagai hambatan utama dalam perundingan dengan AS, seraya menyatakan keraguan atas keseriusan Washington.
- Iran menyambut baik peran diplomatik China, mengingat keberhasilan Beijing memfasilitasi pemulihan hubungan Teheran-Riyadh, meskipun China belum menunjukkan minat publik yang signifikan.
- Ketegangan di Selat Hormuz dan isu pengayaan uranium menjadi batu sandungan, sementara gencatan senjata Israel-Lebanon diperpanjang 45 hari meski serangan sporadis masih terjadi.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengungkapkan bahwa ketiadaan kepercayaan menjadi penghalang terbesar dalam negosiasi dengan Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik. Dalam pernyataannya di New Delhi, Jumat (16/5), ia menekankan bahwa Teheran terbuka terhadap bantuan diplomatik, terutama dari China, guna meredakan ketegangan yang kian memanas.
Araghchi menilai pesan-pesan yang saling bertentangan dari Washington membuat Iran ragu terhadap niat sebenarnya Amerika. "Kami meragukan keseriusan mereka," ujarnya, seraya menambahkan bahwa perundingan dapat berjalan jika AS siap mencapai kesepakatan yang adil dan seimbang. Pernyataan ini muncul setelah Presiden Donald Trump menolak proposal formal Iran sebagai "sampah", meskipun kabarnya proposal tersebut memuat sejumlah konsesi nuklir.
- Iran masih menguasai Selat Hormuz, jalur vital yang sebelumnya dilalui seperlima minyak dunia.
- AS memblokade pelabuhan Iran, sementara Trump dan Presiden China Xi Jinping sepakat Selat Hormuz harus dibuka kembali.
- Rusia menawarkan diri menyimpan stok uranium Iran, namun opsi itu belum dibahas secara aktif.
Isu pengayaan uranium menjadi salah satu topik paling rumit dalam negosiasi. Trump menuntut pengurangan besar-besaran aktivitas nuklir Iran, sementara Teheran bersikeras pada haknya untuk memperkaya uranium. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang melancarkan perang bersama Trump pada 28 Februari, juga mendesak pemindahan uranium yang diperkaya dari Iran. Araghchi menyebut proposal Rusia untuk mengambil alih stok uranium dapat dipertimbangkan kembali jika negosiasi mencapai tahap tersebut.
Di sisi lain, Amerika Serikat mengumumkan bahwa Israel dan Lebanon sepakat memperpanjang gencatan senjata yang akan berakhir selama 45 hari untuk memberi ruang negosiasi kesepakatan damai yang lebih luas. Pertemuan lanjutan dijadwalkan pada 2-3 Juni, sementara jalur militer antara tentara Israel dan Lebanon akan dimulai pada 29 Mei. Meski demikian, gencatan senjata tidak sepenuhnya menghentikan serangan. Militer Israel melaporkan serangan terhadap posisi Hizbullah di Lebanon selatan, yang menurut Kementerian Kesehatan Lebanon menewaskan tiga paramedis dan melukai hampir 40 orang di dekat kota Tirus.
"Akan ada pasang surut, tetapi potensi keberhasilan sangat besar. Yang terpenting sepanjang negosiasi adalah keamanan warga dan tentara kami," kata Duta Besar Israel untuk AS, Yechiel Leiter, dalam unggahan media sosial.
Sementara itu, ketegangan maritim terus berlanjut. Perusahaan keamanan swasta China, Sinoguards, kehilangan kontak dengan kapal Hui Chuan yang kemudian dilaporkan dibawa ke perairan Iran untuk pemeriksaan dokumen. Peristiwa ini terjadi saat pejabat Iran kembali menegaskan klaim kontrol atas Selat Hormuz. Pakistan mengumumkan telah memulangkan 11 warga negara Pakistan dan 20 warga Iran yang berada di kapal yang disita AS di Teluk Oman bulan lalu.
Uni Emirat Arab (UEA) mempercepat pembangunan pipa minyak baru yang memungkinkan ekspor minyak tanpa melalui Selat Hormuz. Putra Mahkota Abu Dhabi, Sheikh Khaled bin Mohammed bin Zayed Al Nahyan, memerintahkan perusahaan minyak negara ADNOC untuk mempercepat proyek tersebut. Pipa baru itu diharapkan menggandakan kapasitas ekspor melalui pelabuhan Fujairah di Teluk Oman dan akan beroperasi tahun depan.
Ke depan, dinamika diplomatik antara Iran dan AS masih sangat rapuh. Keterlibatan China dan Pakistan sebagai mediator dapat menjadi kunci, namun ketidakpercayaan yang mendalam dan kepentingan yang bertentangan membuat jalan menuju perdamaian masih panjang. Stabilitas kawasan dan pasokan energi global bergantung pada keberhasilan negosiasi ini.



