Sekolah Rakyat: Guru Haikal Cerita Perjuangan dan Harapan dari Balik Kelas di Bekasi
Baca dalam 60 detik
- Program Sekolah Rakyat memberikan akses pendidikan gratis dan berasrama bagi anak kurang mampu, dengan guru yang diseleksi ketat.
- Haikal, guru sejarah SRMA 13 Bekasi, menyaksikan semangat belajar siswa yang tinggi meski tinggal di rumah tanpa ruang belajar.
- Pendekatan holistik, termasuk pendidikan karakter dan pendampingan orang tua, diyakini mampu memutus rantai kemiskinan lewat pendidikan.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6581199/original/037142000_1779423467-Foto1.jpg)
Program Sekolah Rakyat yang digagas pemerintah terus menunjukkan dampak nyata dalam memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera. Di SRMA 13 Bekasi, Haikal, seorang guru sejarah lulusan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), menjadi salah satu pengajar yang merasakan langsung transformasi tersebut. Ia bergabung setelah melalui seleksi ketat yang mencakup tes psikologi, bahasa Inggris, dan wawancara, dan kini mengajar siswa yang memiliki latar belakang ekonomi sulit namun semangat belajar tinggi.
Haikal mengaku awalnya ragu apakah metode pengajaran konvensional akan efektif. Namun, kunjungan ke rumah siswa mengubah perspektifnya. “Saya melihat rumah mereka hanya satu ruangan untuk semua aktivitas. Tidak ada meja belajar. Tapi di sekolah, mereka justru minta tambahan pelajaran setelah jam kelas selesai,” ungkapnya. Pengalaman ini memperkuat keyakinannya bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang bagi motivasi belajar.
Dalam proses belajar mengajar, Sekolah Rakyat memanfaatkan teknologi seperti laptop dan smart board. Namun, Haikal mencatat tantangan literasi digital di kalangan siswa. “Awalnya mereka kesulitan menggunakan laptop. Tapi justru dari situ mereka belajar dan perlahan melek teknologi,” jelasnya. Penggunaan internet juga dibatasi untuk menghindari distraksi media sosial, sehingga fokus tetap pada pembelajaran.
Pendidikan karakter menjadi pilar penting di sekolah berasrama ini. Setiap pagi, siswa dibiasakan dengan budaya 5S — senyum, salam, sapa, sopan, santun — dan bersalaman dengan guru. “Kami selalu ingatkan bahwa adab lebih tinggi daripada ilmu,” tegas Haikal. Kegiatan positif seperti olahraga dan nonton film bersama disusun untuk mengisi waktu luang, menggantikan kebiasaan bermain gawai.
Haikal menilai Sekolah Rakyat sebagai bukti nyata bahwa pendidikan bisa menjadi alat pemutus kemiskinan. “Anak-anak di sini benar-benar dijamin pendidikannya. Orang tua juga didampingi, jadi mereka bisa fokus ke masa depan,” pungkasnya. Ke depan, program ini diharapkan dapat diperluas untuk menjangkau lebih banyak daerah, dengan tetap menjaga kualitas pengajaran dan pendampingan.



