Menteri Lingkungan Hidup Soroti Pengelolaan Sampah di Bogor dan Depok, Tegaskan Kebersihan sebagai Prioritas Utama
Baca dalam 60 detik
- Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat menekankan bahwa target utama pengolahan sampah adalah kebersihan lingkungan, bukan nilai ekonomi dari limbah.
- Indonesia dinyatakan sebagai negara megabiodiversitas nomor satu di dunia, yang memerlukan komitmen kuat dalam pelestarian keanekaragaman hayati.
- Pemerintah telah menerapkan kebijakan pengelolaan sampah menjadi energi di 34 wilayah aglomerasi, namun masih terdapat tantangan di daerah lain.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6608880/original/044094400_1779443072-20260522_084736.jpg)
Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat, menyoroti praktik pengelolaan sampah di Kabupaten Bogor dan Kota Depok dalam sebuah acara peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Depok, Jumat (22/5/2026). Ia menegaskan bahwa esensi dari pengolahan sampah adalah menghilangkan sampah dan menciptakan lingkungan yang bersih, bukan semata-mata mengejar keuntungan ekonomi.
“Tidak ada sampah yang terserak, tidak ada metan yang diemisikan — itu inti utamanya, bersih. Kalau bisa menjadi energi atau memiliki nilai ekonomi, itu bonus,” ujar Jumhur di hadapan para akademisi dan pegiat lingkungan. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa pemerintah saat ini memprioritaskan aspek kesehatan lingkungan dan pengurangan emisi gas rumah kaca di atas keuntungan komersial dari limbah.
Dalam kesempatan yang sama, Jumhur juga menyoroti posisi Indonesia dalam konteks keanekaragaman hayati global. Ia mengoreksi anggapan umum bahwa Indonesia adalah negara dengan biodiversitas nomor dua di dunia. “Kita itu megabiodiversitas dan nomor satu,” tegasnya. Menurutnya, kekayaan hayati Indonesia meliputi laut, daratan, dan hutan, sehingga sudah sepatutnya Indonesia menjadi garda terdepan dalam upaya pelestarian biodiversitas dunia.
Kementerian Lingkungan Hidup berkomitmen untuk memberikan peringatan tegas kepada pihak-pihak yang merusak biodiversitas, sekaligus mendukung kelompok yang berjuang untuk pelestariannya. Jumhur mengingatkan bahwa pembangunan yang terus-menerus seringkali membuat masyarakat abai terhadap pentingnya memelihara lingkungan. “Kadang, kita ketika membangun, membangun, membangun, kita suka abai atau lupa bagaimana pentingnya memelihara lingkungan dan biodiversitas,” tuturnya.
Ke depan, Kementerian LH berencana meluncurkan gerakan nasional penanaman pohon di lahan-lahan kritis yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Program ini diharapkan tidak hanya memulihkan lingkungan, tetapi juga membawa manfaat bagi masyarakat lokal. “Mudah-mudahan itu juga bisa membawa kebaikan bagi masyarakat lokal dan kita semua,” pungkas Jumhur.
Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tengah berupaya menyeimbangkan antara pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan. Namun, tantangan masih membentang, terutama di daerah-daerah yang belum tercakup dalam program aglomerasi. Para pemangku kepentingan diharapkan terus berkolaborasi untuk mewujudkan pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan menjaga keanekaragaman hayati Indonesia.



