Xi-Putin Summit Perkuat Poros Beijing-Moskow di Tengah Krisis Energi Global
Baca dalam 60 detik
- Presiden Xi Jinping dan Vladimir Putin sepakat memperluas kerja sama energi dan memperpanjang pakta bilateral 2001, merespons gejolak harga minyak akibat konflik di Timur Tengah.
- Kedua pemimpin menyerukan penghentian permusuhan di kawasan Teluk serta mendorong sistem tata kelola global yang lebih adil, menekan hegemoni Barat.
- Pertemuan ini menjadi panggung bagi kritik bersama terhadap remiliterisasi Jepang dan membuka peluang pertemuan Putin-Trump di APEC Shenzhen November mendatang.

Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin menggelar pertemuan bilateral di Beijing pada Rabu (20/5) yang menghasilkan sejumlah kesepakatan strategis, termasuk perluasan kerja sama energi dan perpanjangan masa berlaku Traktat Persahabatan dan Kerja Sama Baik yang ditandatangani pada 2001. Langkah ini diambil di tengah lonjakan harga minyak mentah dunia yang dipicu oleh operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang telah menutup efektif Selat Hormuz—jalur vital pasokan energi global.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis oleh Xinhua, Xi menekankan bahwa situasi Timur Tengah berada pada "titik kritis" dan mendesak penghentian "semua permusuhan". Ia juga menyerukan negosiasi berkelanjutan untuk meredam gangguan terhadap pasokan energi yang stabil. Sementara itu, Putin melalui kantor berita Tass menegaskan bahwa Rusia tetap menjadi pemasok sumber daya yang andal di tengah krisis tersebut. Kedua pemimpin sepakat untuk "mengambil perspektif strategis dan jangka panjang" serta mendorong sistem tata kelola global yang lebih adil dan masuk akal, seperti dikutip dari Kementerian Luar Negeri China.
Pertemuan Xi-Putin ini terjadi hanya beberapa hari setelah Xi menjamu Presiden AS Donald Trump di Beijing. Hal ini menunjukkan dinamika diplomasi yang kompleks, di mana China dan Rusia semakin mempererat hubungan di tengah tekanan Barat terhadap Moskow pasca-invasi ke Ukraina pada 2022. Kremlin mengonfirmasi bahwa Putin berencana menghadiri KTT APEC di Shenzhen pada November, dan kemungkinan akan mengadakan pertemuan bilateral dengan Trump di sela-sela acara tersebut.
Putin juga menyampaikan undangan kepada Xi untuk mengunjungi Rusia tahun depan. Sebagai simbol eratnya hubungan, Xi mengadakan upacara penyambutan resmi untuk Putin di Balai Agung Rakyat sebelum pertemuan. Kunjungan terakhir Putin ke Beijing adalah pada September 2025 untuk menyaksikan parade militer peringatan 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II.
Ke depannya, poros Beijing-Moskow diprediksi akan semakin solid, terutama dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik global. Kerja sama energi yang diperkuat tidak hanya menjadi bantalan bagi kedua negara terhadap gejolak pasar, tetapi juga instrumen untuk menantang dominasi AS dan sekutunya dalam tata kelola energi dan keamanan internasional.



