Temasek Akui Target Iklim 2030 Sulit Tercapai, Fokus pada Ambisi Jangka Panjang
Baca dalam 60 detik
- CEO Temasek, Dilhan Pillay, menyatakan target pengurangan emisi 50% pada 2030 sulit direalisasikan akibat fragmentasi global dan kenaikan permintaan energi.
- Meskipun demikian, perusahaan tetap berkomitmen pada target net-zero 2050 dan telah mengurangi emisi portofolio sekitar 30% sejak 2019.
- Tantangan dekarbonisasi sektor aviasi dan ketergantungan pada energi fosil menjadi hambatan utama, sementara AI justru berpotensi meningkatkan emisi dalam jangka pendek.

Temasek Holdings secara terbuka mengakui bahwa target iklim interim tahun 2030 kemungkinan besar tidak akan tercapai. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh CEO Dilhan Pillay dalam pidato pembukaan Ecosperity Week 2026, Senin (18/5). Menurut Pillay, lanskap global yang semakin terfragmentasi, lonjakan permintaan energi, serta sulitnya mendekarbonisasi sektor-sektor seperti penerbangan dan pembangkit listrik menjadi faktor utama di balik revisi ekspektasi tersebut.
Meskipun target 2030 dianggap tidak realistis, Pillay menegaskan bahwa komitmen jangka panjang perusahaan untuk mencapai net-zero pada 2050 tidak berubah. Ia menyebut target tersebut tetap menjadi penanda arah yang penting bagi ambisi perusahaan. Sejak pertama kali menetapkan sasaran iklim pada 2019, emisi portofolio Temasek telah turun sekitar 30% β dari level dasar 2010 β namun masih berada di angka 21 juta ton CO2e per Maret 2025.
Pillay menyoroti perubahan fundamental sejak Ecosperity pertama digelar pada 2014. Dunia kini diwarnai volatilitas, ketidakpastian, dan perubahan yang semakin cepat. Ketegangan geopolitik, seperti yang terjadi di kawasan Teluk, menurutnya justru memperkuat argumen untuk mempercepat transisi energi terbarukan β bukan hanya sebagai solusi iklim, tetapi juga untuk ketahanan energi dan daya saing strategis jangka panjang.
Sektor penerbangan menjadi salah satu contoh nyata tantangan dekarbonisasi. Maskapai Singapore Airlines (SIA), yang merupakan bagian dari portofolio Temasek, memang telah meningkatkan efisiensi bahan bakar hingga 25% pada pesawat penumpang generasi baru dan 40% pada kargo. Namun, bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF) yang menjadi kunci dekarbonisasi masih menyumbang kurang dari 1% pasokan global dan harganya dua hingga lima kali lebih mahal dibanding bahan bakar konvensional.
Permintaan listrik global diprediksi tumbuh 2,5 kali lebih cepat dibanding permintaan energi total hingga 2030, berdasarkan data International Energy Agency. Meskipun energi terbarukan akan mendominasi pertumbuhan kapasitas, Pillay menekankan bahwa pembangkit listrik berbasis energi fosil masih diperlukan untuk menjaga stabilitas jaringan dan keterjangkauan selama masa transisi.
Faktor lain yang memperumit pencapaian target iklim adalah kecerdasan buatan (AI). Di satu sisi, AI dapat meningkatkan efisiensi industri dan mengoptimalkan sistem energi. Namun, di sisi lain, AI juga berpotensi meningkatkan emisi secara signifikan karena kebutuhan daya komputasi yang besar. Pillay menggambarkan lingkungan operasi saat ini sebagai revisi besar tatanan internasional yang berbasis aturan, diperumit oleh perang, krisis energi, krisis iklim, dan disrupsi AI.
Meskipun prospek semakin berat, Temasek tetap berkomitmen pada investasi yang sejalan dengan tren Sustainable Living. Hingga Maret 2025, nilai portofolio investasi tersebut mencapai S$46 miliar. Perusahaan akan terus mendorong perusahaan portofolio untuk mengintegrasikan pertimbangan iklim dalam setiap keputusan bisnis dan investasi.
Pernyataan Pillay menjadi sinyal paling jelas bahwa target iklim yang ambisius harus diselaraskan dengan realitas operasional dan geopolitik. Ke depan, Temasek akan mengandalkan pendekatan pragmatis: tetap mendorong dekarbonisasi, namun dengan kecepatan yang disesuaikan dengan kondisi global yang terus berubah.



