Model Ansy Jan Menangis Usai Diperiksa, Polisi Bongkar Rekayasa Pembegalan
Baca dalam 60 detik
- Polda Metro Jaya memeriksa model Ansy Jan De Vries terkait laporan pembegalan palsu yang viral di media sosial.
- Hasil investigasi menunjukkan tidak ada tindak kriminal; narasi pembacokan di Kebon Jeruk murni rekayasa untuk mencari perhatian.
- Polisi mengimbau publik agar lebih bijak bermedia sosial dan tidak menyebarkan hoaks yang memicu keresahan.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6518739/original/076268000_1779377206-IMG_8744.jpeg)
Polda Metro Jaya memeriksa model Ansy Jan De Vries pada Kamis (21/5/2026) malam terkait kasus penyebaran berita bohong yang menyebut dirinya menjadi korban pembegalan dan pembacokan di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Usai menjalani pemeriksaan sebagai saksi, Ansy terlihat menangis dan enggan berkomentar saat dihadang awak media.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, membenarkan agenda pemeriksaan terhadap model tersebut oleh tim penyidik siber. Ia menjelaskan bahwa polisi bergerak cepat menindaklanjuti laporan yang viral, termasuk mengecek tempat kejadian perkara dan menelusuri data pasien di Rumah Sakit Sumber Waras. Namun, petugas menemukan kejanggalan karena nama Ansy tidak tercatat sebagai pasien.
Kecurigaan polisi semakin kuat setelah tim gabungan yang terdiri dari psikolog, unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA), serta petugas kesehatan mendatangi kediaman Ansy. Dalam pertemuan tersebut, terungkap bahwa narasi pembegalan yang mencekam itu hanyalah karangan belaka. βKami tegaskan bahwa yang bersangkutan bukanlah menjadi korban begal ataupun tindakan kriminal lainnya,β tegas Budi.
Menurut Budi, motif di balik aksi nekat Ansy terbilang sepele. βYang pertama karena iseng, yang kedua ingin mengglorifikasikan bahwa beberapa kejadian viral tentang begal,β ungkapnya. Artinya, model tersebut sengaja membuat cerita palsu untuk menarik perhatian publik di tengah maraknya pemberitaan soal kriminalitas jalanan.
Kasus ini menjadi pengingat akan bahaya hoaks di era digital. Informasi yang tidak terverifikasi dapat dengan cepat menyebar dan memicu ketakutan yang tidak perlu. Polisi mengimbau masyarakat untuk selalu memeriksa kebenaran informasi sebelum menyebarkannya, serta tidak mudah terprovokasi oleh konten sensasional.
Ke depan, aparat akan terus menindak tegas pelaku penyebaran berita bohong yang merugikan banyak pihak. Langkah ini diharapkan dapat memberikan efek jera dan menjaga ketertiban di ruang siber.



