Rubio Akui Ada Kemajuan dalam Negosiasi dengan Iran, Namun Masih Ada Pekerjaan Rumah
Baca dalam 60 detik
- Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengakui adanya kemajuan dalam perundingan dengan Iran, tetapi menekankan bahwa masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.
- Dua isu utama yang belum terselesaikan adalah program nuklir Iran dan kendali atas Selat Hormuz, yang penutupannya telah memicu krisis energi global.
- Mediasi Qatar dan Pakistan terus berlangsung, namun pasar keuangan masih skeptis terhadap prospek penyelesaian konflik yang telah memasuki minggu ke-12.

Washington, DC – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, pada Jumat (22/5) menyatakan bahwa terdapat kemajuan dalam negosiasi dengan Iran, namun masih diperlukan upaya lebih lanjut untuk mencapai kesepakatan. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya tekanan diplomatik untuk mengakhiri konflik yang telah mengguncang perekonomian global.
Rubio, yang berbicara setelah pertemuan para menteri NATO di Swedia, mengatakan bahwa celah antara kedua belah pihak telah menyempit, tetapi masih ada perbedaan pendapat yang signifikan, terutama terkait uranium yang diperkaya Iran dan kendali atas Selat Hormuz. “Ada beberapa kemajuan. Saya tidak akan melebih-lebihkannya. Saya juga tidak akan meremehkannya. Masih ada pekerjaan yang harus dilakukan. Kami belum sampai di sana. Saya harap kami bisa sampai di sana,” ujar Rubio.
Rubio kembali menegaskan bahwa rencana Iran untuk memberlakukan sistem tol di Selat Hormuz tidak dapat diterima. “Kami berhadapan dengan sekelompok orang yang sangat sulit, dan jika tidak ada perubahan, presiden telah menyatakan dengan jelas bahwa ia memiliki opsi lain,” tambahnya. Ia juga mengungkapkan bahwa AS belum meminta bantuan NATO untuk masalah Selat Hormuz, tetapi diperlukan rencana cadangan jika Iran menolak membuka kembali jalur air tersebut.
Di sisi lain, upaya mediasi terus berlanjut. Menteri Dalam Negeri Pakistan, Syed Mohsin Naqvi, mengadakan putaran perundingan lain dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, di Teheran. Sementara itu, tim negosiator Qatar, yang bekerja sama dengan AS, tiba di Iran pada hari Jumat. Qatar sebelumnya dikenal sebagai mediator utama antara Israel dan Hamas, tetapi sempat menjauh dari konflik saat ini setelah mendapat serangan rudal dan drone dari Iran.
“Kami memasuki akhir minggu ke-12, enam minggu dalam gencatan senjata, dan saya tidak begitu yakin kita semakin dekat dengan resolusi antara AS dan Iran,” kata Tony Sycamore, analis pasar di IG, meragukan prospek terobosan.
Konflik ini telah berdampak besar pada perekonomian global. Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi yang merajalela, sementara dolar AS mendekati level tertinggi dalam enam minggu. Presiden AS Donald Trump, yang menghadapi tekanan domestik menjelang pemilihan paruh waktu November, mengatakan bahwa AS pada akhirnya akan mengambil alih stok uranium yang diperkaya Iran—yang menurut Washington ditujukan untuk senjata nuklir, meskipun Teheran membantahnya.
Dua sumber senior Iran mengungkapkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, telah mengeluarkan arahan agar uranium tidak dikirim ke luar negeri. Sementara itu, tawaran terbaru Iran yang diserahkan awal pekan ini sebagian besar mengulangi persyaratan yang sebelumnya ditolak Trump, termasuk kendali atas Selat Hormuz, kompensasi atas kerusakan perang, pencabutan sanksi, pembebasan aset beku, dan penarikan pasukan AS.
Ke depan, Rubio menekankan bahwa jika Iran tidak mengubah sikapnya, presiden memiliki opsi lain yang jelas. Namun, ia juga menyisakan ruang untuk optimisme. “Saya harap kita bisa sampai di sana,” pungkasnya.



