KNKT Temukan Tiga Faktor Kritis di Balik Tragedi Kereta Bekasi Timur
Baca dalam 60 detik
- Gangguan visual akibat lampu sekitar jalur membuat masinis tidak bisa membaca sinyal bantu dengan jelas.
- Jeda komunikasi antar pengendali perjalanan di dua wilayah berbeda menghambat peringatan dini ke masinis KA Argo Bromo Anggrek.
- KNKT menegaskan temuan ini masih bersifat data faktual awal, bukan kesimpulan akhir penyebab kecelakaan.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5567734/original/013791000_1777330643-3.jpg)
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengidentifikasi tiga dugaan faktor utama yang berkontribusi terhadap kecelakaan beruntun di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, yang menewaskan 16 penumpang. Dalam rapat kerja dengan Komisi V DPR RI pada Kamis (21/5/2026), Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono memaparkan temuan awal yang mencakup gangguan sinyal, distraksi visual, dan kelemahan sistem komunikasi antarpetugas.
Faktor pertama adalah distraksi cahaya dari lingkungan sekitar jalur kereta. Menurut Soerjanto, lampu-lampu dari pemukiman dan pasar di sekitar sinyal bantu (sinyal UB) membuat masinis dan asistennya tidak dapat melihat indikasi dengan jelas. “Kalau masinis bisa melihat sinyal bantu dengan baik, itu juga bisa membantu menghindari kecelakaan tersebut,” ujarnya. Kondisi ini dinilai sebagai salah satu unsafe condition yang perlu segera dibenahi.
Faktor kedua menyangkut jeda komunikasi yang terjadi saat insiden. Laporan awal tabrakan antara KRL dan taksi diterima oleh pengendali perjalanan (PK) wilayah selatan, sementara perjalanan KA Argo Bromo Anggrek berada di bawah kendali PK wilayah timur. Informasi harus melalui rantai panjang: dari PK Selatan ke Chief, lalu ke PK Timur, sebelum akhirnya menghubungi masinis. “Ini yang membikin jeda agak terlalu lama,” kata Soerjanto. Akibatnya, peringatan dini tidak sampai tepat waktu.
Faktor ketiga adalah masalah sinyal di Stasiun Bekasi Timur yang gagal mendeteksi keberadaan KA 5568 di jalur 1. Soerjanto mengungkapkan bahwa sistem persinyalan tidak mampu mengidentifikasi adanya rangkaian yang masih berada di stasiun, sehingga sinyal keluar beraspek hijau tetap diberikan kepada KA Argo Bromo Anggrek. Ketua Komisi V DPR RI Lasarus mempertanyakan hal ini: “Berarti kesimpulan yang didapat oleh KNKT … sinyalnya sudah hijau Pak ya? Harusnya merah karena di depan ada obstacle.”
Meski demikian, Soerjanto menekankan bahwa paparan tersebut masih berupa data faktual awal dan belum mengandung analisis maupun kesimpulan akhir. “Pada presentasi saat ini kami hanya menyajikan data faktual, tidak terdapat analisis dan tidak ada kesimpulan terhadap penyebab terjadinya kecelakaan,” pungkasnya. KNKT masih akan melanjutkan investigasi mendalam untuk merumuskan rekomendasi perbaikan sistem keselamatan perkeretaapian nasional.
Ke depan, temuan ini menyoroti urgensi perbaikan infrastruktur sinyal, pengelolaan pencahayaan di sekitar jalur, serta penyederhanaan protokol komunikasi antar-PK agar tidak ada lagi celah yang memakan korban jiwa. Industri perkeretaapian Indonesia diharapkan dapat segera mengadopsi teknologi persinyalan yang lebih andal dan sistem koordinasi lintas wilayah yang lebih efisien.



