Trump Investasi di Perusahaan Sushi Jepang, Transaksi Saham Capai Ratusan Juta Dolar
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump membeli saham Kura Sushi USA senilai hingga 5 juta dolar pada awal Februari lalu.
- Total transaksi saham Trump dalam tiga bulan pertama 2026 diperkirakan mencapai 750 juta dolar, melibatkan raksasa teknologi dan manufaktur.
- Gedung Putih membantah adanya konflik kepentingan, meskipun presiden tetap diwajibkan melaporkan aktivitas perdagangan sahamnya.

Washington, DC β Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah laporan keuangan terbaru mengungkapkan pembelian saham di anak usaha Jepang, Kura Sushi USA Inc. Transaksi tersebut tercatat dalam formulir pengungkapan yang diajukan ke Kantor Etika Pemerintah AS (OGE) pada periode Januari hingga Maret 2026.
Berdasarkan dokumen yang dirilis, Trump membeli saham Kura Sushi USA pada 2 Februari 2026 dengan nilai investasi antara 1 juta hingga 5 juta dolar. Perusahaan yang terdaftar di bursa Nasdaq ini merupakan operator restoran sushi konveyor asal Jepang yang telah berekspansi ke pasar Amerika. Langkah ini menambah portofolio investasi Trump yang sudah mencakup saham-saham blue chip seperti Nvidia, Boeing, Microsoft, dan Oracle.
Meskipun undang-undang AS tidak melarang presiden untuk memiliki atau memperdagangkan saham selama masa jabatan, setiap transaksi wajib dilaporkan secara transparan. Formulir OGE menjadi mekanisme utama untuk memastikan kepatuhan terhadap aturan etika. Dalam kasus ini, Gedung Putih dengan tegas membantah adanya potensi konflik kepentingan, sebagaimana dikutip dari sejumlah laporan media.
Langkah Trump berinvestasi di perusahaan asing seperti Kura Sushi USA memicu diskusi mengenai batasan etika bagi pejabat publik. Beberapa pengamat menilai bahwa meskipun legal, praktik ini dapat menimbulkan persepsi negatif di mata publik, terutama jika keputusan kebijakan pemerintah bersinggungan dengan sektor tempat presiden berinvestasi. Namun, hingga saat ini belum ada indikasi pelanggaran hukum.
Ke depan, transparansi laporan keuangan presiden akan terus menjadi sorotan, terutama di tengah meningkatnya tuntutan publik akan akuntabilitas. Kasus Trump ini kembali mengingatkan pentingnya pemisahan yang jelas antara kepentingan pribadi dan tugas kenegaraan.



