Maskapai Eropa Terancam Tertinggal: Perang, Birokrasi, dan Harga Bahan Bakar Hijau Jadi Beban
Baca dalam 60 detik
- Daya saing tergerus: Airlines for Europe (A4E) memperingatkan bahwa maskapai Eropa kehilangan pijakan terhadap rival global akibat kombinasi perang (Ukraina & Timur Tengah), biaya regulasi yang terus naik, dan harga bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF) yang tidak terjangkau.
- Panggilan darurat ke UE: Kelompok lobi yang mewakili Ryanair, Air France-KLM, dan Lufthansa ini menyerukan kerangka manajemen krisis yang lebih kuat serta "pembebasan penerbangan" yang memungkinkan kewajiban ditangguhkan sementara ketika kondisi darurat terjadi.
- Gagal struktural pasar SAF: A4E menyoroti kegagalan struktural pasar bahan bakar hijau, sekaligus menuntut reformasi pengendalian lalu lintas udara Eropa yang sering terganggu serta pembatasan aturan keberlanjutan yang dianggap memberatkan.

BRUSSEL, BELGIA — Maskapai penerbangan Eropa semakin terdesak oleh pesaing global dan membutuhkan dukungan lebih kuat dari Uni Eropa untuk mengatasi biaya regulasi yang membengkak, membuat bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF) terjangkau, serta mengelola krisis secara lebih baik. Dalam dokumen yang diserahkan kepada Komisi Eropa sebagai tanggapan atas Strategi Penerbangan dan Aeronautika baru—dengan tenggat waktu Kamis (21/5)—kelompok lobi Airlines for Europe (A4E) menyatakan bahwa pandemi COVID-19, penutupan wilayah udara Rusia, serta krisis di Timur Tengah telah memperburuk posisi kompetitif maskapai Uni Eropa.
Dari Pandemi ke Perang: Beban Berlapis
A4E, yang mewakili maskapai besar seperti Ryanair, Air France-KLM, dan Lufthansa, telah lama mendesak reformasi pengendalian lalu lintas udara Eropa yang sering mengalami gangguan, pelonggaran aturan keberlanjutan yang dianggap terlalu berat, serta bantuan agar sektor ini lebih kompetitif secara global. Dalam dokumennya, A4E secara khusus menyerukan Uni Eropa untuk menciptakan kerangka manajemen krisis yang lebih kuat dan "pembebasan penerbangan" (aviation waiver)—sebuah instrumen yang memungkinkan kewajiban tertentu ditangguhkan atau disesuaikan sementara ketika kepatuhan terhadap aturan tersebut jelas tidak praktis atau kontraproduktif dalam situasi darurat.
Sektor penerbangan termasuk yang paling terpukul selama pandemi COVID-19, dan gangguan perjalanan tahun ini akibat perang AS-Israel dengan Iran—ditambah konflik berkepanjangan di Ukraina yang menutup wilayah udara Rusia—semakin memperburuk keadaan. A4E juga menyoroti fenomena hilangnya pangsa pasar terhadap maskapai non-UE, termasuk maskapai China dan Timur Tengah, yang mendapat dukungan lebih kuat dari pemerintah mereka serta tidak dibebani aturan lingkungan seketat Eropa.
📊 TANTANGAN UTAMA A4E
Penyebab: COVID-19, perang Ukraina, krisis Timur Tengah, proteksionisme global
Dampak: Hilangnya pangsa pasar ke maskapai China & Timur Tengah
Kendala internal: Kemacetan lalu lintas udara Eropa, biaya SAF tinggi, aturan keberlanjutan ketat
Solusi yang diminta: Krisis framework, aviation waiver, reformasi ATC, subsidi SAF
SAF: Antara Target Hijau dan Realitas Pasar
Salah satu poin paling kritis dalam dokumen A4E adalah seruan untuk "mengatasi kegagalan struktural pasar bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF)." Uni Eropa telah menetapkan target ambisius untuk pencampuran SAF, yang diwajibkan meningkat secara bertahap hingga 70 persen pada 2050. Namun, maskapai mengeluh bahwa harga SAF saat ini masih sangat tinggi—dapat mencapai tiga hingga lima kali lipat harga bahan bakar jet konvensional—sementara produksi masih sangat terbatas. Akibatnya, maskapai Eropa harus menaikkan harga tiket atau menyerap margin yang semakin tipis, sementara rival dari Teluk dan China tidak dibebani kewajiban serupa. A4E mendesak Komisi Eropa untuk menyediakan insentif fiskal, mendukung investasi dalam produksi SAF, dan memastikan bahwa bahan bakar hijau tersedia dalam skala yang cukup dan harga yang kompetitif sebelum target wajib dinaikkan lebih lanjut.
Prospek ke Depan: Reformasi atau Ketertinggalan?
Ke depan, tanggapan Komisi Eropa terhadap tuntutan A4E akan menentukan nasib industri penerbangan benua biru. Jika UE mengabaikan seruan ini, maskapai Eropa berisiko kehilangan lebih banyak pangsa pasar terhadap rival dari Teluk (Emirates, Qatar Airways, Etihad) dan China (Air China, China Eastern) yang terus ekspansif pasca-pandemi. Namun, di sisi lain, Komisi Eropa juga dihadapkan pada tekanan dari kelompok lingkungan yang menuntut target iklim lebih ketat, bukan pelonggaran. Jalan tengah mungkin terletak pada "pembebasan penerbangan" darurat yang hanya berlaku dalam situasi krisis (seperti perang atau pandemi), serta akselerasi investasi dalam produksi SAF melalui mekanisme pendanaan publik-swasta. Satu hal yang pasti: maskapai Eropa tidak bisa terus-menerus beroperasi dengan satu tangan terikat di belakang punggung. Tanpa langkah konkret dalam waktu dekat, "kehilangan pijakan" yang dikeluhkan A4E akan berubah menjadi "ketertinggalan permanen" yang sulit dibalikkan.
"The COVID-19 pandemic, the closure of Russian airspace, the crisis in the Middle East, together with growing global protectionism have worsened the competitive disadvantage for EU carriers." — Airlines for Europe (A4E), dalam dokumen yang diserahkan ke Komisi Eropa.



