Trump Kirim Utusan Khusus: 4 Bulan Negosiasi Rahasia untuk Aneksasi Greenland
Baca dalam 60 detik
- Misi rahasia 4 bulan: Utusan khusus Donald Trump, Gubernur Louisiana Jeff Landry, telah melakukan setidaknya lima pertemuan tertutup dengan pejabat Denmark dan Greenland sejak Januari untuk membahas aneksasi pulau Arktik tersebut.
- Tuntutan militer AS: Washington menginginkan hak veto atas semua kesepakatan investasi besar di Greenland, pangkalan militer permanen, serta fasilitas pasukan khusus dan pelabuhan laut dalam.
- Ancaman 'cara keras': Trump kembali menegaskan bahwa jika Greenland tidak diperoleh dengan "cara mudah", ia akan mengambilnya dengan "cara keras"—dengan alasan mencegah China atau Rusia menguasai wilayah tersebut.

NUUK, GREENLAND — Utusan khusus Presiden Donald Trump untuk Greenland, Gubernur Louisiana Jeff Landry, mendarat di ibu kota Nuuk pada Minggu (18/5) menjelang konferensi bisnis pekan ini, sebagai bagian dari dorongan rahasia selama empat bulan untuk mengakuisisi wilayah Arktik tersebut. Menurut laporan Telegraph dan New York Times, negosiator AS, Denmark, dan Greenland telah bertemu setidaknya lima kali sejak Januari dalam forum tertutup yang membahas pangkalan militer permanen, hak veto atas investasi asing, serta kemungkinan pembukaan kembali pangkalan AS era Perang Dunia II di pantai selatan.
Dari 'Banyak Berteman' hingga Pangkalan Militer Permanen
Dalam wawancara dengan penyiar Denmark DR setelah mendarat, Landry menyampaikan pesan langsung dari Trump: "Dia berkata, 'Pergilah ke sana dan buat banyak teman, sebanyak mungkin teman.'" Namun, di balik narasi ramah tersebut, agenda tersembunyi jauh lebih ambisius. Sumber yang mengetahui negosiasi rahasia mengungkapkan bahwa AS menginginkan hak veto atas setiap kesepakatan investasi besar di Greenland—sebuah langkah yang dirancang khusus untuk mencegah China mendapatkan pijakan di wilayah yang kaya akan sumber daya alam, termasuk tanah jarang (rare earth) dan minyak. Selain itu, Washington mendorong kerja sama ekstraksi sumber daya dan memungkinkan pasukan Amerika untuk tinggal di pulau tersebut secara tidak terbatas (indefinite troops). Komandan Komando Utara AS, Jenderal Gregory M. Guillot, mencatat bahwa Greenland dapat menjadi bagian dari rangkaian stasiun radar Arktik yang mencakup pangkalan di Alaska dan Kanada, serta menjadi lokasi pelabuhan laut dalam dan pangkalan pasukan khusus.
Trump pertama kali melontarkan gagasan membawa Greenland ke dalam lingkup pengaruh AS pada masa jabatan pertamanya pada 2019. Sejak kembali ke kantor, ia berulang kali menggandakan komitmennya. Pada Januari lalu, ia menyatakan: "Kami akan melakukan sesuatu di Greenland, apakah mereka suka atau tidak, karena jika kami tidak melakukannya, Rusia atau China yang akan mengambil alih Greenland, dan kami tidak akan menginginkan Rusia atau China sebagai tetangga." Pernyataan Trump bahwa ia akan mengambil wilayah tersebut dengan "cara keras" jika tidak berhasil dengan "cara mudah" semakin memperkuat ketegangan diplomatik dengan Denmark, yang secara resmi mengklaim kedaulatan atas pulau dengan sekitar 57.000 penduduk.
📊 AGENDA NEGOSIASI RAHASIA AS
Jumlah pertemuan rahasia: ≥5 kali sejak Januari 2026
Tuntutan AS: Hak veto investasi asing di Greenland
Fasilitas militer: Pasukan permanen, pangkalan pasukan khusus, pelabuhan laut dalam
Sumber daya alam: Tanah jarang (rare earth), minyak
Pangkalan era Perang Dunia II: Opsi pembukaan kembali di pantai selatan
Penolakan Denmark dan Eskalasi Retorika
Denmark dan pejabat Greenland secara konsisten menolak upaya Trump untuk mengklaim pulau tersebut, dengan pernyataan tegas bahwa wilayah itu tidak untuk dijual. Namun, AS terus melancarkan pendekatan diplomatik dan ekonomi. Landry dijadwalkan menghadiri konferensi "Future Greenland" pada 19-20 Mei, bersama dengan Duta Besar AS untuk Denmark, Kenneth Howery. Meskipun narasi publik Landry adalah "membangun hubungan" dan "mencari peluang untuk memperluas hubungan antara Greenland, Amerika Serikat, dan Denmark," negosiasi tertutup yang berlangsung selama empat bulan terakhir menunjukkan bahwa tujuan sebenarnya jauh lebih besar. Di tengah meningkatnya persaingan geopolitik di Arktik—di mana China dan Rusia secara aktif memperluas kehadiran mereka—Trump melihat Greenland sebagai aset strategis yang tidak dapat ditawar.
Prospek ke Depan: Antara 'Cara Mudah' dan 'Cara Keras'
Ke depan, konferensi "Future Greenland" di Nuuk akan menjadi ajang uji coba apakah pendekatan "banyak berteman" Landry dapat melunakkan penolakan Denmark dan Greenland. Namun, dengan Trump yang secara terbuka mengancam akan mengambil alih pulau tersebut dengan "cara keras", kecil kemungkinan Kopenhagen akan menyerah begitu saja. Skenario yang mungkin terjadi termasuk peningkatan tekanan ekonomi AS terhadap Denmark (misalnya, melalui tarif atau pembatasan visa), peningkatan kehadiran militer AS di pangkalan Thule yang sudah ada (tanpa aneksasi penuh), atau negosiasi paket kompensasi finansial yang sangat besar untuk Greenland—mirip dengan bagaimana AS membeli Kepulauan Virgin dari Denmark pada 1917. Bagi investor dan analis geopolitik, sengketa Greenland menyoroti meningkatnya persaingan global atas sumber daya Arktik dan rute pelayaran baru, serta kecenderungan AS di bawah Trump untuk menggunakan taktik "negosiasi dengan ancaman" terhadap sekutu tradisionalnya. Apapun hasilnya, hubungan AS-Denmark telah memasuki periode paling tegang sejak Perang Dingin.
"He said go over there and make a bunch of friends, as many friends as we can." — Jeff Landry, utusan khusus Trump untuk Greenland, menyampaikan pesan resmi Presiden.



