Israel Klaim Bunuh Komandan Tertinggi Qassam Izz al-Din al-Haddad di Gaza
Baca dalam 60 detik
- Target bernilai tinggi: Militer Israel mengklaim telah menewaskan Izz al-Din al-Haddad, salah satu komandan paling senior Brigade Qassam (sayap militer Hamas) yang terkait langsung dengan serangan 7 Oktober 2023.
- Penolakan terhadap Trump: Al-Haddad disebut Israel sebagai sosok sentral yang menolak proposal Presiden AS Donald Trump agar Hamas melucuti senjata.
- Pukulan berat bagi Hamas: Jika dikonfirmasi, kematian al-Haddad akan menjadi pukulan signifikan bagi kepemimpinan militer Hamas, karena ia termasuk komandan paling senior yang masih tersisa di Gaza.

GAZA, PALESTINA — Militer Israel mengumumkan pada Minggu (18/5) bahwa mereka berhasil menarget dan membunuh Izz al-Din al-Haddad, salah satu komandan paling senior Brigade Izz al-Din al-Qassam (sayap militer Hamas), dalam operasi di Distrik Al-Rimal, Kota Gaza. Serangan ini dilakukan atas perintah langsung Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz, menggunakan apa yang disebut sebagai "intelijen presisi" tentang aktivitas al-Haddad. Menteri Katz kemudian mengonfirmasi kabar tersebut kepada media Israel.
Siapa Izz al-Din al-Haddad dan Mengapa Target Ini Penting?
Dalam pernyataan resminya, militer Israel menyebut al-Haddad sebagai "salah satu komandan paling senior" di Brigade Qassam serta "figur sentral" yang terkait langsung dengan serangan 7 Oktober 2023—serangan lintas batas yang menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel selatan dan memicu perang yang masih berlangsung hingga saat ini. Selain perannya dalam perencanaan operasional, al-Haddad juga disebut-sebut sebagai tokoh yang secara terbuka menolak proposal Presiden AS Donald Trump agar Hamas melucuti senjata, sebuah langkah yang oleh Washington dinilai penting untuk mencapai stabilitas jangka panjang di kawasan. Para pejabat Israel meyakini bahwa al-Haddad merupakan salah satu komandan paling senior yang masih tersisa di dalam Gaza, dan kematiannya akan menjadi pukulan telak bagi struktur kepemimpinan militer Hamas.
Sejak perang pecah pada Oktober 2023, Israel secara sistematis telah menargetkan para komandan tinggi Hamas, baik di Gaza maupun di luar negeri. Juru bicara militer Israel mengindikasikan bahwa mayoritas anggota dewan militer Hamas kini telah menjadi sasaran—baik terbunuh atau terlumpuhkan. Operasi penargetan al-Haddad ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Gaza, di mana Israel terus menekan kepemimpinan Hamas sementara pembicaraan internasional dan seruan gencatan senjata terus bergulir tanpa hasil yang signifikan.
⚔️ KONTEKS OPERASI
Target: Izz al-Din al-Haddad, komandan senior Brigade Qassam
Lokasi: Distrik Al-Rimal, Kota Gaza
Perintah: PM Netanyahu & Menhan Katz
Metode: Intelijen presisi
Klaim Israel: Al-Haddad tolak proposal Trump untuk perlucutan senjata Hamas
Dampak dan Reaksi: Puklan bagi Hamas, Eskalasi Lebih Lanjut?
Jika konfirmasi kematian al-Haddad terbukti, ini akan menjadi keberhasilan intelijen dan operasional terbesar Israel dalam beberapa bulan terakhir. Namun, secara historis, pembunuhan terhadap pemimpin senior Hamas sering kali diikuti oleh eskalasi serangan balasan—baik melalui roket dari Gaza maupun aksi militan di Tepi Barat. Kelompok Palestina belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai klaim Israel ini, dan biasanya mereka memerlukan waktu untuk mengonfirmasi status komandan yang berada di medan perang. Di sisi lain, Amerika Serikat di bawah pemerintahan Trump terus mendukung upaya Israel untuk membongkar kapasitas militer Hamas, meskipun ada kekhawatiran dari beberapa kalangan internasional bahwa tidak adanya solusi politik justru akan memperpanjang siklus kekerasan.
Prospek ke Depan: Antara Kemenangan Taktis dan Kebuntuan Strategis
Ke depan, keberhasilan Israel menewaskan al-Haddad kemungkinan akan disambut sebagai kemenangan taktis yang signifikan di dalam negeri, terutama bagi koalisi pemerintahan Netanyahu yang terus mendapat tekanan publik untuk "menyelesaikan pekerjaan" di Gaza. Namun, secara strategis, pertanyaan yang lebih besar tetap belum terjawab: akankah perlawanan Hamas runtuh tanpa para komandan seniornya, atau justru akan bermetamorfosis menjadi struktur desentralisasi yang lebih sulit diberantas? Selain itu, proposal Trump yang ditolak al-Haddad—yakni perlucutan senjata Hamas sebagai prasyarat perdamaian—kini menghadapi jalan buntu yang lebih dalam dengan kepergian salah satu penentang paling vokal. Para pengamat regional memperkirakan bahwa ketegangan akan tetap tinggi dalam beberapa pekan ke depan, dengan potensi serangan balasan baik dari Hamas maupun kelompok sekutunya di Lebanon, Suriah, dan Yaman. Bagi investor dan pelaku bisnis dengan eksposur ke kawasan Timur Tengah, ini adalah pengingat bahwa risiko geopolitik tetap menjadi faktor utama yang tidak dapat diabaikan, terutama di sektor energi, logistik, dan keamanan siber.
"The action was carried out under the command of Prime Minister Benjamin Netanyahu and Defense Minister Israel Katz, adding that al-Haddad had rejected a proposal put up by U.S. President Donald Trump to disarm Hamas." — Pernyataan resmi militer Israel.



