Waspada! Anemia Dapat Meningkatkan Risiko Demensia hingga 66% dan Memperburuk Biomarker Alzheimer
Baca dalam 60 detik
- Lansia dengan anemia memiliki risiko demensia 66% lebih tinggi dibandingkan mereka yang memiliki kadar hemoglobin normal.
- Kombinasi antara anemia dan tingginya biomarker Alzheimer (pTau217 dan NfL) dalam darah menciptakan profil risiko demensia yang paling ekstrem.
- Anemia lebih mudah dideteksi melalui tes darah rutin, menjadikannya target potensial yang bisa diobati untuk membantu strategi pencegahan penurunan kognitif pada lansia.

Sebuah penelitian jangka panjang terbaru mengungkapkan hubungan yang mengkhawatirkan antara anemia dan kesehatan otak. Studi ini menemukan bahwa lansia yang menderita anemia memiliki risiko 66% lebih tinggi untuk terkena demensia dibandingkan mereka dengan kadar hemoglobin normal. Lebih jauh lagi, kondisi ini berkaitan erat dengan peningkatan biomarker penyakit Alzheimer dalam darah.
Fakta Kunci Studi Anemia & Demensia:
- Partisipan: Melibatkan 2.282 orang berusia 60 tahun ke atas di Swedia yang awalnya tidak menderita demensia.
- Durasi: Masa tindak lanjut rata-rata selama 9,3 tahun (hingga maksimal 16 tahun).
- Temuan Utama: Penderita anemia memiliki kemungkinan 66% lebih besar untuk mengembangkan demensia selama periode penelitian.
- Interaksi Biomarker: Risiko tertinggi ditemukan pada individu yang menderita anemia sekaligus memiliki kadar biomarker Alzheimer (seperti pTau217 dan NfL) yang tinggi dalam darah.
Anemia sebagai "Konteks Biologis" Kerentanan Otak
Anemia terjadi ketika tubuh kekurangan sel darah merah sehat yang mengandung hemoglobin—protein yang bertugas menyuplai oksigen ke seluruh tubuh, termasuk otak. Kurangnya oksigen kronis ini diduga membuat otak lebih rentan terhadap penyakit neurodegeneratif.
| Profil Risiko | Tingkat Risiko Demensia |
|---|---|
| Anemia (+) & Biomarker Tinggi (+) | Sangat Tinggi (Risiko aditif) |
| Anemia (+) & Biomarker Rendah (-) | Tinggi |
| Hemoglobin Normal & Biomarker Rendah (-) | Paling Rendah |
"Temuan kami menunjukkan bahwa anemia adalah faktor risiko yang relevan untuk demensia. Karena anemia relatif mudah dideteksi dengan tes darah rutin dan sering kali dapat diobati, ini bisa menjadi target yang berpotensi dimodifikasi dalam strategi pencegahan demensia," jelas Martina Valletta, penulis utama studi dari Karolinska Institutet.
Perbedaan Jenis Kelamin dan Genetik
Menariknya, penelitian ini mencatat bahwa hubungan antara hemoglobin rendah dan risiko demensia tampak lebih signifikan pada pria dibandingkan wanita. Selain itu, hubungan ini tidak terlihat pada pembawa gen APOE ε4 (gen pemicu Alzheimer), yang menunjukkan bahwa mekanisme pengaruh anemia mungkin berbeda pada mereka yang sudah memiliki predisposisi genetik kuat.
Meskipun studi ini bersifat observasional—artinya belum bisa membuktikan bahwa mengobati anemia secara otomatis mencegah demensia—para ahli medis menyarankan agar kondisi anemia pada lansia tidak diabaikan begitu saja. Deteksi dini dan penanganan kadar hemoglobin yang rendah dapat menjadi sinyal klinis penting untuk pemantauan kesehatan kognitif yang lebih ketat.



