BMI: Panduan Awal untuk Menilai Berat Badan, Namun Bukan Ukuran Mutlak
Baca dalam 60 detik
- Indeks massa tubuh (BMI) menjadi alat skrining awal yang praktis, tetapi memiliki keterbatasan karena tidak membedakan massa otot dan lemak serta mengabaikan distribusi lemak tubuh.
- Riset menunjukkan ambang batas BMI yang berlaku umum kurang akurat untuk populasi tertentu, seperti perempuan dan kelompok Asia-Pasifik, sehingga perlu penyesuaian.
- Konsultasi dengan tenaga medis tetap diperlukan untuk evaluasi komprehensif, termasuk pengukuran lingkar pinggang dan persentase lemak tubuh.

Indeks massa tubuh atau body mass index (BMI) telah lama digunakan sebagai indikator cepat untuk memperkirakan kadar lemak tubuh dan risiko penyakit terkait obesitas. Namun, para ahli mengingatkan bahwa alat ini hanyalah titik awal dan tidak boleh dijadikan satu-satunya patokan kesehatan.
BMI dihitung berdasarkan tinggi dan berat badan seseorang. Meskipun mudah dan murah, metode ini memiliki kelemahan signifikan: tidak mampu membedakan antara massa otot dan lemak, serta tidak memberikan informasi tentang distribusi lemak di berbagai bagian tubuh. Padahal, penumpukan lemak di area perut misalnya, lebih erat kaitannya dengan risiko penyakit kardiovaskular dan metabolik dibandingkan lemak di bagian lain.
Lebih jauh lagi, ambang batas BMI yang selama ini digunakan—seperti underweight (<18,5), normal (18,5–24,9), overweight (25–29,9), dan obesitas (≥30)—sebagian besar didasarkan pada data populasi kulit putih. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa komposisi tubuh dan distribusi lemak sangat bervariasi antar ras, etnis, dan jenis kelamin. Sebuah studi di Brasil tahun 2017 pada 856 pria dan wanita dewasa menemukan bahwa ambang batas obesitas yang tepat untuk pria adalah 29,9 kg/m², tetapi untuk wanita justru lebih rendah, yaitu 24,9 kg/m². Sementara itu, peneliti Korea pada tahun yang sama melaporkan bahwa penduduk Asia-Pasifik memiliki risiko diabetes tipe 2 dan penyakit jantung yang lebih tinggi bahkan pada BMI di bawah 25 kg/m².
- BMI tidak memperhitungkan komposisi tubuh secara keseluruhan.
- Ambang batas BMI perlu disesuaikan untuk populasi tertentu, seperti perempuan dan kelompok Asia.
- Risiko penyakit metabolik dapat muncul pada BMI yang dianggap normal untuk populasi tertentu.
- Alat ukur lain seperti rasio lingkar pinggang-tinggi badan dan persentase lemak tubuh memberikan gambaran lebih akurat.
Untuk membantu masyarakat, berbagai kalkulator dan grafik BMI tersedia secara daring, termasuk yang disediakan oleh The Calculator Site. Grafik tersebut memungkinkan seseorang mencocokkan berat badan dan tinggi badan untuk mengetahui kategori BMI-nya. Namun, perlu diingat bahwa angka-angka ini hanyalah panduan. Seorang atlet dengan massa otot tinggi mungkin memiliki BMI di atas 25, tetapi tidak berarti ia kelebihan lemak tubuh. Sebaliknya, seseorang dengan BMI normal bisa saja memiliki persentase lemak tubuh yang tinggi dan berisiko mengalami masalah kesehatan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri telah mengeluarkan tabel perbandingan yang menunjukkan variasi ambang batas BMI berdasarkan populasi. Dokter dapat menggunakan variasi ini saat memberikan nasihat atau menangani kondisi pasien dari latar belakang berbeda. Selain BMI, tenaga kesehatan profesional biasanya juga mempertimbangkan distribusi lemak tubuh dan rasio ukuran pinggang terhadap tinggi badan untuk memberikan rekomendasi yang lebih personal.
Menjaga berat badan dalam kisaran moderat memang terbukti menurunkan risiko berbagai penyakit kronis, seperti penyakit jantung, diabetes tipe 2, sleep apnea, dan kanker kolorektal. Namun, berat badan yang terlalu rendah juga tidak kalah berbahaya karena dapat menyebabkan malnutrisi, osteoporosis, anemia, dan gangguan akibat kekurangan nutrisi lainnya.
Pada akhirnya, BMI adalah alat yang berguna untuk memberikan gambaran umum, tetapi bukanlah cerita lengkap tentang kesehatan seseorang. Siapa pun yang memiliki kekhawatiran tentang berat badannya disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi guna mendapatkan penilaian yang menyeluruh dan saran yang sesuai dengan kondisi individu.



