Studi Ungkap Faktor Risiko Demensia Berdampak Lebih Kuat pada Kognisi Perempuan
Baca dalam 60 detik
- Penelitian terhadap 17.000 orang dewasa AS menemukan bahwa faktor risiko demensia yang dapat dimodifikasi, seperti hipertensi dan BMI tinggi, memiliki dampak kognitif lebih buruk pada perempuan dibanding laki-laki.
- Meskipun gangguan pendengaran dan diabetes lebih umum pada pria, kedua kondisi tersebut justru terkait dengan penurunan kognitif yang lebih signifikan pada perempuan.
- Temuan ini mendorong pengembangan strategi pencegahan demensia yang dipersonalisasi berdasarkan jenis kelamin dan profil risiko individu, bukan pendekatan satu ukuran untuk semua.

Sebuah studi terbaru dari University of California, San Diego School of Medicine mengungkapkan bahwa perempuan mungkin mengalami dampak kognitif yang lebih kuat dari beberapa faktor risiko demensia yang dapat dimodifikasi dibandingkan laki-laki, bahkan ketika faktor-faktor tersebut lebih jarang terjadi pada perempuan. Temuan yang dipublikasikan di jurnal Biology of Sex Differences ini menganalisis data kesehatan dan kognitif dari lebih dari 17.000 orang dewasa paruh baya dan lanjut usia di Amerika Serikat.
Para peneliti meneliti 13 faktor risiko demensia yang telah mapan, termasuk depresi, obesitas, ketidakaktifan fisik, merokok, gangguan pendengaran, diabetes, hipertensi, masalah tidur, konsumsi alkohol, kadar kolesterol, penglihatan buruk, isolasi sosial, dan tingkat pendidikan. Hasil analisis menunjukkan perbedaan mencolok dalam prevalensi dan dampak faktor-faktor ini antara kedua jenis kelamin. Perempuan lebih mungkin melaporkan depresi, ketidakaktifan fisik, masalah tidur, kolesterol tinggi, merokok, penglihatan buruk, dan tingkat pendidikan yang lebih rendah. Sementara itu, laki-laki lebih sering mengalami gangguan pendengaran, diabetes, dan konsumsi alkohol berat.
Judy Pa, PhD, profesor neurosains di UC San Diego School of Medicine dan penulis koresponden studi tersebut, menjelaskan bahwa beberapa faktor biologis dan sosial mungkin berkontribusi terhadap perbedaan ini. Selain stres pengasuhan—di mana dua pertiga pengasuh demensia adalah perempuan—faktor genetik seperti alel APOE4, yang ditemukan pada sekitar 25% populasi umum, meningkatkan risiko Alzheimer pada perempuan lebih tinggi daripada laki-laki. Pa juga menyoroti peristiwa besar seperti menopause, yang merupakan transisi neurologis signifikan dengan perubahan tekanan darah, metabolisme glukosa, dan peradangan, namun dampaknya terhadap kesehatan otak masih belum sepenuhnya dipahami.
“Tidak ada satu peluru ajaib, melainkan menerapkan gaya hidup sehat. Menjaga tubuh tetap sehat akan menjaga otak tetap sehat.” — Judy Pa, PhD
Studi ini menekankan pentingnya pendekatan pencegahan yang dipersonalisasi, atau yang dikenal sebagai precision medicine. Alih-alih menerapkan prioritas pencegahan yang sama untuk semua orang, strategi masa depan harus berfokus pada faktor risiko yang paling berbahaya dalam kelompok tertentu. Untuk perempuan, hal ini berarti penekanan lebih besar pada penanganan depresi, peningkatan aktivitas fisik, pengelolaan tekanan darah, perbaikan kesehatan kardiovaskular, serta penanganan obesitas dan kondisi metabolik. Karena faktor-faktor ini dapat dimodifikasi, intervensi dini menawarkan peluang nyata untuk mengurangi risiko demensia sebelum gejala kognitif muncul.
Para peneliti mengakui bahwa studi observasional ini belum membuktikan hubungan kausal, dan penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami mengapa perbedaan berbasis jenis kelamin ini muncul dan bagaimana perkembangannya seiring waktu. Tim Pa saat ini sedang mengajukan pendanaan untuk uji coba klinis acak besar yang melibatkan sekitar 1.000 orang dewasa lanjut usia di AS, dengan tujuan menguji pendekatan pencegahan yang disesuaikan dengan profil risiko individu, termasuk jenis kelamin, status APOE4, dan faktor risiko lainnya seperti hipertensi yang tidak diobati, gaya hidup tidak aktif, dan gangguan tidur.
Secara keseluruhan, studi ini memperkuat bukti bahwa hampir setengah dari semua kasus demensia di dunia dapat dicegah atau ditunda dengan mengatasi 14 faktor risiko yang dapat dimodifikasi sepanjang hidup. Meskipun besarnya dampak setiap faktor bervariasi antar individu, langkah-langkah umum seperti mengatasi masalah kesehatan yang sudah ada, mengadopsi pola makan sehat, meningkatkan aktivitas fisik, dan menjaga stimulasi kognitif tetap direkomendasikan untuk menurunkan risiko demensia secara keseluruhan.



