Tes Darah Ukur Usia Biologis Bisa Deteksi Risiko Demensia Sejak Dini
Baca dalam 60 detik
- Peneliti King's College London mengembangkan jam penuaan metabolomik yang menganalisis metabolit dalam darah untuk memperkirakan usia biologis seseorang.
- Individu dengan usia biologis lebih tua dari usia kronologis memiliki risiko demensia 20% lebih tinggi, dan risiko demensia vaskular melonjak hingga 60%.
- Kombinasi data penuaan biologis dengan faktor genetik APOE4 meningkatkan prediksi risiko demensia hingga 10 kali lipat, membuka peluang intervensi dini.

Sebuah studi terbaru yang dipimpin oleh para ilmuwan dari King's College London, Inggris, mengungkapkan bahwa pengukuran usia biologis melalui sampel darah dapat menjadi alat deteksi dini risiko demensia, bahkan sebelum gejala klinis muncul. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Alzheimer’s & Dementia ini menganalisis data lebih dari 220.000 partisipan dari UK Biobank, dengan hampir 4.000 di antaranya didiagnosis demensia selama periode studi.
Usia biologis, yang diukur berdasarkan biomarker metabolik, mencerminkan kecepatan penuaan sel seseorang secara independen dari usia kronologis. Dalam studi ini, para peneliti menggunakan jam penuaan metabolomik yang disebut MileAge untuk menganalisis metabolit—molekul kecil hasil metabolisme—yang terdeteksi dalam plasma darah. Perbedaan antara usia biologis dan usia kronologis, yang disebut sebagai MileAge delta, menunjukkan apakah seseorang menua lebih cepat atau lebih lambat dari yang diharapkan.
Hasilnya menunjukkan bahwa partisipan dengan usia biologis lebih dari satu standar deviasi di atas usia kronologis—sekitar 16% dari total partisipan—memiliki risiko 20% lebih tinggi untuk mengembangkan demensia. Risiko ini bahkan lebih signifikan pada demensia vaskular, di mana percepatan penuaan biologis dikaitkan dengan peningkatan risiko hingga 60%. Penulis utama studi, Julian Mutz, PhD, dari Institute of Psychiatry, Psychology & Neuroscience (IoPPN) King's College London, menjelaskan bahwa temuan ini tidak mengejutkan karena metabolit yang diukur didominasi oleh lipid dan lipoprotein yang erat kaitannya dengan kesehatan kardiovaskular dan metabolik.
Yang menarik, kombinasi data penuaan biologis dengan faktor risiko genetik, terutama varian APOE4, secara signifikan meningkatkan akurasi prediksi. Individu dengan percepatan penuaan biologis dan pembawa dua salinan varian APOE4 memiliki risiko demensia hingga 10 kali lebih besar dibandingkan rata-rata partisipan. Mutz menekankan bahwa kedua faktor risiko ini bersifat komplementer dan bekerja melalui jalur yang independen. Ia menambahkan, "Berbeda dengan risiko genetik, penuaan metabolomik bersifat potensial dapat dimodifikasi melalui intervensi gaya hidup atau klinis."
Studi ini juga menyoroti bahwa sekitar 45% kasus demensia global dapat ditunda atau dicegah dengan mengatasi faktor risiko yang dapat dimodifikasi, seperti kesehatan kardiovaskular, merokok, pola makan, aktivitas fisik, dan isolasi sosial. Temuan ini sejalan dengan laporan Lancet Commission yang mengidentifikasi 14 faktor risiko modifiable. Mutz menekankan pentingnya mengurangi LDL kolesterol, meningkatkan aktivitas fisik, berhenti merokok, dan menjaga hubungan sosial yang positif sebagai langkah konkret.
"Pesan utamanya adalah risiko demensia tidak ditentukan oleh genetika saja. Sebagian besar risiko bersifat non-genetik dan oleh karena itu dapat dimodifikasi. Artinya, ada hal-hal yang dapat dilakukan orang—seperti mengelola faktor risiko kardiovaskular, tetap aktif secara fisik, atau menjaga kesehatan mental—yang dapat memperlambat penuaan biologis dan mengurangi risiko demensia serta penyakit terkait usia lainnya." – Julian Mutz, PhD
Para peneliti percaya bahwa jam penuaan berbasis plasma darah ini dapat menjadi alat praktis untuk mengidentifikasi individu berisiko tinggi pada usia paruh baya, karena prosedurnya minimal invasif dan relatif mudah diskalakan. Selain itu, teknologi ini juga dapat membantu rekrutmen uji klinis untuk pencegahan demensia atau terapi modifikasi penyakit. Mutz menjelaskan dua potensi penggunaan: sebagai ukuran hasil dalam uji coba, dan untuk memperkaya populasi studi dengan individu yang memiliki usia biologis lebih tua.
Meskipun hasilnya menjanjikan, para peneliti mengingatkan bahwa penelitian lebih lanjut masih diperlukan sebelum jam penuaan metabolomik dapat diterapkan dalam perawatan klinis rutin. Studi ini menunjukkan asosiasi antara penuaan biologis dan risiko demensia, namun belum membuktikan bahwa percepatan penuaan biologis secara langsung menyebabkan demensia. Ke depannya, integrasi data genetik dan biologis ini diharapkan dapat membuka jalan bagi strategi pencegahan yang lebih personal dan efektif.



