Gangguan Neurologis di China Meledak Saat Pandemi, Stroke dan Demensia Jadi Beban Utama
Baca dalam 60 detik
- Angka mencengangkan: Pada 2021, sebanyak 3,40 miliar orang di seluruh dunia hidup dengan gangguan neurologis—setara 43,1 persen populasi global. Di China, prevalensi Parkinson melonjak 544 persen dalam 31 tahun.
- Efek pandemi: Analisis titik belok (joinpoint) mengungkap lonjakan tajam demensia, epilepsi idiopatik, multiple sclerosis, dan sakit kepala tegang antara 2019-2021, periode yang bertepatan dengan pandemi COVID-19.
- Beban asimetris: Stroke hemoragik (pendarahan otak) masih menjadi penyebab kematian tertinggi, namun demensia telah menyalipnya pada populasi di atas 90 tahun—menandai pergeseran epidemiologis besar menuju penyakit neurodegeneratif.

GUANGZHOU, CHINA — Sebuah studi longitudinal berskala besar yang dipublikasikan di Chinese Medical Journal pada 1 April 2026 mengungkapkan peningkatan dramatis beban penyakit neurologis di China daratan antara 1990 dan 2021. Tim peneliti yang dipimpin Profesor Yamei Tang dari Rumah Sakit Sun Yat-sen Memorial menganalisis data Global Burden of Diseases (GBD) 2021, mencakup 12 jenis gangguan saraf. Temuan utamanya: penyakit Parkinson melonjak 544 persen, demensia 249 persen, dan stroke iskemik 161 persen. Yang paling mengkhawatirkan, periode 2019-2021—yang bersinggungan dengan pandemi COVID-19—menunjukkan lonjakan prevalensi yang tidak biasa untuk beberapa kondisi, mengindikasikan kemungkinan hubungan kausal dengan infeksi SARS-CoV-2.
Membedah Lonjakan: dari Parkinson hingga Demensia
Secara absolut, gangguan saraf yang paling umum di China pada 2021 adalah sakit kepala tegang (19.948 kasus per 100.000 penduduk), migrain (12.985 per 100.000), dan stroke iskemik (1.462 per 100.000). Namun, dari sisi fatalitas, pendarahan otak (intracerebral hemorrhage/ICH) menjadi pembunuh nomor satu dengan 93 kematian per 100.000, diikuti stroke iskemik (82,7) dan demensia (34,6). Yang menarik, ketika diukur dengan Disability-Adjusted Life Years (DALYs)—metrik yang menggabungkan tahun hidup hilang karena kematian prematur dan tahun hidup dengan disabilitas—pendarahan otak (1.930 DALYs per 100.000), stroke iskemik (1.647), dan demensia (708) menempati peringkat tertinggi. Ini menunjukkan bahwa selain mematikan, gangguan neurologis juga menyebabkan kecacatan jangka panjang yang sangat membebani sistem kesehatan.
Analisis subgroup berdasarkan usia mengungkap pola yang jelas: pada anak di bawah 10 tahun, epilepsi idiopatik dan kanker sistem saraf pusat mendominasi; pada kelompok 10-39 tahun, migrain menjadi beban utama; pada usia 40-74 tahun, stroke hemoragik dan iskemik mendominasi; dan setelah 75 tahun, stroke iskemik dan demensia menyalip pendarahan otak. Pada populasi di atas 90 tahun, demensia menjadi kontributor terbesar—sebuah pergeseran epidemiologis yang mencerminkan penuaan populasi China yang cepat.
📊 LONJAKAN PREVALENSI (1990-2021)
Penyakit Parkinson: ▲ 544,1%
Demensia: ▲ 249,1%
Stroke iskemik: ▲ 161,5%
Epilepsi idiopatik: ▼ (satu-satunya yang menurun)
Lonjakan 2019-2021: Demensia, epilepsi, MS, sakit kepala tegang
Faktor Risiko: Tekanan Darah Tinggi Juara, Gaya Hidup Berperan Besar
Dari semua faktor risiko yang dapat dimodifikasi, tekanan darah sistolik tinggi (hipertensi) adalah kontributor tunggal terbesar terhadap beban penyakit saraf di China. Namun, pola perilaku berbeda signifikan antara jenis kelamin: pada perempuan, paparan asap rokok (perokok pasif) dan rendahnya aktivitas fisik lebih dominan; sementara pada laki-laki, konsumsi alkohol, merokok aktif, dan diet tinggi natrium memberikan dampak lebih besar. Temuan ini memiliki implikasi kebijakan yang jelas: intervensi penurunan tekanan darah harus menjadi prioritas nasional, sementara kampanye pengurangan garam perlu ditargetkan kepada populasi laki-laki, dan promosi olahraga serta perlindungan dari asap rokok lebih diarahkan pada perempuan. Secara regional, stroke iskemik memiliki tingkat DALY tertinggi di China utara dan timur laut, sementara pendarahan otak paling tinggi di barat daya dan barat laut—menunjukkan perlunya strategi berbasis wilayah.
Proyeksi ke Depan: Menuju Krisis Perawatan Jangka Panjang
Ke depan, China—dan negara dengan populasi menua serupa—menghadapi tantangan ganda. Pertama, penurunan penyakit serebrovaskular fatal seperti pendarahan otak (ICH) adalah kabar baik yang mencerminkan kemajuan pengendalian hipertensi dan perbaikan layanan gawat darurat. Namun, peningkatan dramatis penyakit neurodegeneratif seperti demensia dan Parkinson justru menciptakan beban baru yang berbeda sifatnya: bukan beban kematian akut, melainkan beban kecacatan jangka panjang yang membutuhkan perawatan berkelanjutan, fasilitas rehabilitasi, dukungan caregiver, dan sistem asuransi jangka panjang. China saat ini belum sepenuhnya siap menghadapi pergeseran ini. Bagi investor di sektor kesehatan, peluang terbuka lebar pada layanan home care, panti jompo spesialis demensia, telemedisin untuk follow-up pasien saraf, serta pengembangan biomarker untuk deteksi dini Alzheimer dan Parkinson. Namun, bagi pembuat kebijakan, ini adalah alarm bahwa sistem kesehatan harus bertransformasi dari model "obat-dan-keluar" menjadi model "kelola-seumur-hidup". Studi lanjutan longitudinal sangat diperlukan untuk mengonfirmasi hubungan kausal antara COVID-19 dan lonjakan ini—namun sambil menunggu bukti, perencanaan kapasitas sistem perawatan jangka panjang tidak boleh ditunda.
"Beban penyakit neurologis di China terus meningkat dan terdistribusi tidak merata. Menangani tantangan ini memerlukan strategi nasional terkoordinasi yang mencakup pencegahan, pengobatan, rehabilitasi, dan perawatan jangka panjang, yang disesuaikan dengan kebutuhan demografis dan regional." — Prof. Yamei Tang, Sun Yat-sen Memorial Hospital, Sun Yat-sen University.



