Microsoft Beri Sinyal Pembangunan "Bunker Data" untuk Amankan Pusat Data di Zona Perang
Baca dalam 60 detik
- Microsoft sedang mengevaluasi ulang desain pusat data mereka di daerah rawan konflik setelah Iran melancarkan serangan fisik ke fasilitas di Timur Tengah.
- Presiden Microsoft, Brad Smith, mengisyaratkan kemungkinan pembangunan fasilitas mirip "bunker" lapis baja untuk menahan serangan kinetik.
- Iran sebelumnya menargetkan pusat data di UEA dan Bahrain dengan alasan fasilitas tersebut mendukung militer AS, dan turut mengancam fasilitas Stargate milik OpenAI.


Microsoft tengah mengevaluasi ulang strategi rancangan dan konstruksi pusat datanya (datacenter) di wilayah-wilayah rawan konflik. Langkah antisipatif ini diambil menyusul aksi Iran yang mulai menargetkan fasilitas penyimpanan data di Timur Tengah sebagai bentuk balasan atas operasi militer Amerika Serikat.
Fakta Kunci Ancaman Pusat Data di Timur Tengah:
- Evaluasi Desain Ekstrem: Presiden Microsoft, Brad Smith, mengisyaratkan bahwa desain pusat data di masa depan mungkin akan berubah total di wilayah konflik, memunculkan spekulasi konsep fasilitas lapis baja atau "bunker data" (bit bunkers).
- Serangan Kinetik Iran: Berbeda dengan serangan siber biasa, bulan lalu Iran telah melancarkan serangan fisik (kinetik) ke sejumlah pusat data di Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain dengan dalih fasilitas tersebut mendukung operasi intelijen AS.
- Ancaman OpenAI: Tidak hanya Microsoft, Iran juga secara terbuka mengancam akan melancarkan serangan terhadap proyek pusat data raksasa "Stargate" milik OpenAI yang berlokasi di UEA.
Sebagai raksasa teknologi, Microsoft tentu sudah kenyang dengan pengalaman menangani serangan siber terhadap infrastruktur jaringannya. Namun, menghadapi ancaman serangan fisik bersenjata di dunia nyata adalah tantangan yang sepenuhnya berbeda. Situasi ini mendorong petinggi Microsoft untuk menuntut adanya hukum global yang lebih jelas.
"Serangan-serangan ini akan memberikan pengaruh seiring waktu terhadap desain dan konstruksi pusat data, dan bentuknya mungkin tidak akan sama di mana-mana. Kami juga mendesak adanya aturan internasional yang kuat untuk mempromosikan perlindungan terhadap infrastruktur sipil, yang mana pusat data harus termasuk di dalamnya," ujar Brad Smith kepada Nikkei Asia.
Jejak Infrastruktur Pusat Data Microsoft di Timur Tengah
Jejak fasilitas Microsoft di kawasan Timur Tengah terbilang sangat masif. Kekhawatiran muncul karena lokasi-lokasi strategis ini kini masuk dalam radius jangkauan serangan militer Iran.
| Negara / Lokasi | Status Operasional |
|---|---|
| Uni Emirat Arab (UEA) | Sudah beroperasi dan saat ini berada di bawah bayang-bayang ancaman serangan. |
| Qatar & Israel | Sudah beroperasi secara penuh untuk melayani kawasan regional. |
| Arab Saudi | Sedang dalam tahap persiapan dan direncanakan untuk mulai beroperasi pada akhir tahun ini. |
Hingga saat ini, belum ada laporan yang menyebutkan bahwa fasilitas fisik Microsoft mengalami kerusakan sejak eskalasi konflik memanas pada akhir Februari lalu. Pihak The Register menyatakan telah menghubungi markas besar Microsoft di Redmond untuk meminta konfirmasi lebih lanjut terkait status keamanan fasilitas mereka.



