APEC Dorong Ketahanan Rantai Pasok Energi di Tengah Krisis Timur Tengah
Baca dalam 60 detik
- Para menteri perdagangan APEC menegaskan komitmen menjaga kelancaran rantai pasok energi dan produk esensial menyusul ketegangan di Selat Hormuz.
- Pertemuan di Suzhou juga menyoroti potensi kecerdasan buatan dalam mendorong perdagangan regional yang inklusif dan aman.
- China menjadi tuan rumah dialog perdana antara anggota RCEP dan CPTPP sebagai upaya memperkuat integrasi ekonomi Asia-Pasifik.

Para menteri perdagangan dari 21 ekonomi kawasan Asia-Pasifik yang tergabung dalam Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) menekankan pentingnya menjaga ketahanan rantai pasok energi dan produk-produk esensial di tengah konflik yang memanas di Timur Tengah. Kesepakatan ini dicapai dalam pertemuan dua hari yang berlangsung di Suzhou, China, dan berakhir pada Sabtu lalu.
Dalam pernyataan bersama yang dirilis setelah pertemuan, para menteri menegaskan tekad mereka untuk memastikan arus perdagangan tetap berjalan dan infrastruktur kritis terus mendukung kelangsungan serta integritas rantai pasok global. Langkah ini diambil menyusul penutupan efektif Selat Hormuz—jalur vital pengangkutan energi—yang memicu lonjakan harga minyak mentah setelah serangan AS-Israel terhadap Iran.
Selain isu energi, para menteri APEC juga mengakui potensi besar kecerdasan buatan (AI) dalam mentransformasi perdagangan internasional. Mereka berkomitmen memperluas perdagangan regional berbasis AI dengan menekankan aspek keamanan, aksesibilitas, kepercayaan, dan keandalan dalam mewujudkan manfaat AI bagi seluruh pihak. China, yang menjadi tuan rumah APEC tahun ini, berharap hasil pertemuan menteri ini dapat menjadi landasan bagi KTT pemimpin APEC yang akan digelar di Shenzhen pada November mendatang.
Menteri Perdagangan China, Wang Wentao, dalam konferensi pers menyatakan bahwa pertemuan Suzhou menyoroti kesediaan negara-negara Asia-Pasifik untuk bekerja sama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan unilateralisme. “Ini sepenuhnya menunjukkan bahwa regionalisme terbuka dan multilateralisme sejati mendapat dukungan besar, dan bahwa saling melengkapi serta pembangunan bersama memenuhi kepentingan fundamental semua ekonomi,” ujar Wang. Ia juga menambahkan bahwa pertemuan tersebut berfokus pada teknologi mutakhir, termasuk AI, dan inovasi menjadi harapan bersama untuk memberdayakan perkembangan ekonomi kawasan.
Sebagai bagian dari rangkaian acara APEC, China juga menjadi tuan rumah dialog pertama antara anggota Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP) dan Perjanjian Kemitraan Trans-Pasifik (CPTPP). Lin Feng, pejabat senior perdagangan China, menyebut kedua kerangka kerja ini sebagai “super-size” karena mencakup 18 negara anggota serta Sekretaris Jenderal ASEAN, Kao Kim Hourn. Dialog tersebut membahas cara mempercepat integrasi ekonomi regional.
China merupakan salah satu dari 15 anggota RCEP, yang juga mencakup 10 negara ASEAN, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru. Namun, China belum bergabung dengan CPTPP, meskipun telah mengajukan permohonan pada 2021. Menariknya, Menteri Perdagangan Jepang, Ryosei Akazawa, tidak menghadiri dialog RCEP-CPTPP tersebut. Seorang pejabat senior Jepang menyatakan bahwa Tokyo tidak mengakui acara itu sebagai forum yang didasarkan pada konsensus para anggota kedua kerangka kerja.
Ke depan, langkah APEC dalam memperkuat rantai pasok energi dan mendorong adopsi AI diharapkan mampu meredam dampak krisis global dan menciptakan ekosistem perdagangan yang lebih tangguh. Dialog antara RCEP dan CPTPP juga menjadi sinyal positif bagi upaya harmonisasi aturan perdagangan di kawasan, meskipun masih terdapat perbedaan pandangan di antara para anggotanya.



