Panglima TNI Berangkatkan 744 Prajurit ke Lebanon di Tengah Ketegangan Timur Tengah
Baca dalam 60 detik
- Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto secara resmi memberangkatkan 744 personel Satgas Kontingen Garuda untuk misi UNIFIL di Lebanon, sebagai bentuk rotasi pasukan penjaga perdamaian.
- Pengiriman ini terjadi di tengah eskalasi konflik Israel-Hizbullah yang telah menewaskan empat prajurit Indonesia, menekankan urgensi keselamatan personel PBB.
- Menteri Luar Negeri Sugiono menegaskan bahwa keamanan pasukan penjaga perdamaian adalah prinsip yang tidak dapat ditawar, seraya menuntut pertanggungjawaban atas serangan yang menimpa personel Indonesia.

Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal Agus Subiyanto memimpin upacara pemberangkatan Satuan Tugas Kontingen Garuda (Konga) untuk misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) Tahun Anggaran 2026 di Lapangan Prima Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (21/5). Sebanyak 744 personel dikirimkan untuk menggantikan pasukan Indonesia yang tengah bertugas di Lebanon selatan, wilayah yang kini menjadi pusat ketegangan akibat konflik bersenjata antara milisi Hizbullah dan Israel.
Komposisi kontingen terdiri dari 571 prajurit TNI Angkatan Darat, 79 personel TNI Angkatan Laut, 63 personel TNI Angkatan Udara, dan 31 personel dari Markas Besar TNI. Dalam amanatnya, Panglima Agus menekankan bahwa partisipasi Indonesia dalam misi perdamaian global merupakan wujud kepercayaan internasional terhadap profesionalisme prajurit. Ia menginstruksikan seluruh anggota Satgas untuk menjunjung tinggi nama baik bangsa dan Pasukan Garuda, mematuhi prosedur operasional standar (SOP), meningkatkan kewaspadaan terhadap dinamika situasi, serta menjaga moral dan kesehatan selama penugasan.
Pengiriman pasukan ini merupakan rotasi rutin untuk memperbarui kehadiran Indonesia di UNIFIL. Namun, situasi di Lebanon selatan semakin memanas sejak pecahnya perang antara Israel dan Hizbullah. Konflik tersebut telah menimbulkan korban tidak hanya di kalangan militer Lebanon, tetapi juga di antara pasukan penjaga perdamaian PBB, termasuk dari Indonesia. Panglima Agus secara khusus mengingatkan prajurit untuk selalu waspada terhadap perkembangan situasi yang cepat berubah.
Dalam forum internasional, Menteri Luar Negeri RI Sugiono menegaskan sikap tegas Indonesia terkait keselamatan personel PBB. Pada Pertemuan Menteri Luar Negeri BRICS di New Delhi, India, Kamis (14/5), Sugiono menyatakan bahwa keamanan pasukan penjaga perdamaian adalah hal yang tidak bisa ditawar. Ia mengutip gugurnya empat penjaga perdamaian Indonesia di Lebanon sebagai bukti nyata risiko yang dihadapi. "Keselamatan dan keamanan penjaga perdamaian PBB adalah hal yang tidak bisa ditawar," ujar Sugiono, seraya menuntut pertanggungjawaban penuh atas serangan yang menimpa personel Indonesia.
Pernyataan tersebut mencerminkan komitmen Indonesia untuk terus berkontribusi dalam misi perdamaian dunia, namun dengan tuntutan perlindungan yang lebih kuat bagi para prajurit yang bertugas di zona konflik. Ke depan, Indonesia diharapkan terus mendorong mekanisme keamanan yang lebih ketat bagi personel UNIFIL, terutama di tengah meningkatnya eskalasi di Timur Tengah.



