Kunjungan Strategis Prabowo ke Jepang: Investasi Blok Masela Rp300 Triliun dan Akselerasi Transisi Energi Resmi Disepakati
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto mengamankan investasi Blok Masela senilai lebih dari Rp300 triliun dalam kunjungan resminya ke Tokyo.
- Investasi tersebut mencakup pengembangan teknologi penangkapan karbon (CCS) senilai USD 1 miliar agar operasional gas lebih ramah lingkungan.
- Indonesia menargetkan percepatan transisi energi melalui optimalisasi geotermal dan energi baru terbarukan lainnya di tengah ketidakpastian geopolitik global.

Kunjungan kenegaraan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto ke Tokyo, Jepang, pada Senin (30/3), berhasil mengamankan komitmen investasi raksasa di sektor energi nasional. Fokus utama pertemuan ini mencakup percepatan proyek strategis nasional Blok Masela serta penguatan kemitraan transisi energi baru terbarukan (EBT) guna menghadapi ketidakpastian geopolitik global.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa kunjungan ini merupakan langkah konkret pemerintah dalam memastikan kedaulatan energi Indonesia. Proyek Blok Masela yang telah mangkrak selama puluhan tahun kini mendapatkan kepastian nilai investasi yang mencapai angka fantastis, yakni lebih dari Rp300 triliun (setara USD 20,9 miliar), termasuk alokasi khusus untuk teknologi ramah lingkungan.
- Blok Masela: Total investasi mencapai USD 20,9 miliar, termasuk USD 1 miliar untuk teknologi Carbon Capture and Storage (CCS).
- Kedaulatan Gas: Operasional Blok Masela diproyeksikan menjadikan Indonesia sebagai pemain utama gas di pasar dunia.
- Diversifikasi EBT: Optimalisasi potensi geotermal, air, tenaga surya, dan angin di tengah fluktuasi harga energi fosil global.
- Sinergi Antarlembaga: Koordinasi intensif di bawah Sekretaris Kabinet untuk memastikan implementasi proyek berjalan tepat waktu di tahun 2025-2026.
Presiden Prabowo menginstruksikan agar implementasi proyek Blok Masela dipercepat guna memperkuat cadangan migas nasional. Menurut Bahlil, penambahan investasi sebesar USD 1 miliar untuk teknologi CCS merupakan bukti komitmen Indonesia dalam menjalankan hilirisasi energi yang tetap mengacu pada standar emisi global yang ketat.
Selain migas, pemerintah juga mendorong pemanfaatan seluruh potensi energi non-fosil. Hal ini dilakukan sebagai strategi antisipasi terhadap dinamika geopolitik yang tidak menentu. Bahlil menyebutkan bahwa selama teknologi yang digunakan efisien secara biaya, pemerintah akan memberikan karpet merah bagi investasi di sektor panas bumi hingga tenaga angin.
Keberhasilan kunjungan ini menandai babak baru hubungan bilateral Indonesia-Jepang yang lebih berorientasi pada hasil teknis dan penguatan ekonomi jangka panjang. Dengan dukungan penuh dari INPEX dan koordinasi solid antar-kementerian, Indonesia optimistis mampu mencapai kemandirian energi sekaligus mengakselerasi target net zero emission.



