Tutup Usia di Los Angeles: Wasiat Terakhir Konservasionis Orangutan Birutė Galdikas Ingin Dimakamkan di Tanah Dayak
Baca dalam 60 detik
- Berita Duka: Ilmuwan dan konservasionis orangutan legendaris, Birutė Mary Galdikas, meninggal dunia di Los Angeles karena kanker paru pada usia 70 tahun.
- Wasiat Terakhir: Sang mendiang meninggalkan wasiat untuk dimakamkan di tanah Dayak, Kalimantan Tengah, berdekatan dengan makam mendiang suaminya.
- Proses Pemulangan: Pemerintah Indonesia melalui KBRI dan KJRI saat ini tengah mengurus administrasi untuk memulangkan jenazah ke Indonesia demi memenuhi wasiat tersebut.

Dunia konservasi satwa liar berduka. Ilmuwan sekaligus pahlawan konservasi orangutan asal Kanada, Birutė Mary Galdikas, dikabarkan meninggal dunia pada usia 70 tahun di Los Angeles, Amerika Serikat, meninggalkan warisan tak ternilai bagi pelestarian hutan Kalimantan.
Kabar kepergian pendiri Orangutan Foundation International (OFI) ini dikonfirmasi langsung oleh Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, melalui unggahan media sosialnya pada Rabu, 25 Maret 2026. Berdasarkan informasi dari sang putra, Fred, Galdikas diketahui mengidap kanker paru yang membuatnya tak bisa kembali mengunjungi hutan Kalimantan dalam beberapa bulan terakhir. Semasa hidupnya, Galdikas mengabdikan dirinya selama puluhan tahun bekerja dalam senyap di pedalaman hutan Kalimantan Tengah untuk menyelamatkan dan merehabilitasi habitat orangutan.
- Wasiat Pemakaman: Birutė Galdikas memiliki wasiat khusus untuk dimakamkan di tanah Dayak, Kalimantan Tengah, berdampingan dengan pusara mendiang suaminya.
- Proses Repatriasi: Pemerintah Indonesia melalui KBRI di Washington DC dan KJRI Los Angeles sedang berkoordinasi untuk memfasilitasi kepulangan jenazahnya ke Tanah Air.
- Jejak Sejarah: Galdikas tiba di Kalimantan pada tahun 1971 dan merintis kawasan perlindungan yang kini dikenal sebagai Taman Nasional Tanjung Puting.
- Penghargaan: Atas dedikasinya, ia pernah dianugerahi Penghargaan Kalpataru sebagai "Pahlawan Lingkungan Hidup" oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1997.
Bersama Jane Goodall (ahli simpanse) dan Dian Fossey (ahli gorila), Birutė Galdikas dikenal sebagai salah satu dari "Trimates", tiga pionir primatolog perempuan yang dimentori oleh paleoantropolog Louis Leakey. Galdikas menghabiskan lebih dari setengah abad hidupnya meneliti perilaku orangutan liar, mengevakuasi primata malang dari tangan penebang liar, dan membangun pusat rehabilitasi legendaris, Camp Leakey, di tengah lebatnya belantara Borneo.
Upaya repatriasi jenazah Galdikas ke Kalimantan Tengah bukan sekadar pemenuhan wasiat, melainkan penghormatan tertinggi dari negara dan masyarakat adat atas jasa-jasanya. Dedikasinya yang tanpa pamrih telah menjadikan Taman Nasional Tanjung Puting sebagai salah satu benteng pertahanan terakhir bagi orangutan Kalimantan di tengah ancaman deforestasi.
| Profil & Pencapaian | Keterangan Singkat |
|---|---|
| Organisasi Bentukan | Pendiri Orangutan Foundation International (OFI). |
| Lokasi Riset Utama | Camp Leakey, Taman Nasional Tanjung Puting, Kalteng. |
| Julukan Internasional | Salah satu dari "Trimates" (Tiga Pionir Primatolog Dunia). |
Selamat jalan, pahlawan hutan Kalimantan. Semangat dan warisan kerja kerasmu akan terus hidup di setiap jengkal tajuk pepohonan dan kepakan napas orangutan yang berhasil kau selamatkan. *Requiescat in pace*, Birutė Galdikas.



