Tutup Usia di Singapura: Mengenang Jejak Sederhana dan Gurita Bisnis Konglomerat Michael Bambang Hartono
Baca dalam 60 detik
- Pengusaha kawakan dan salah satu orang terkaya di Indonesia, Michael Bambang Hartono, meninggal dunia di Singapura pada Kamis, 19 Maret 2026, pukul 13.15 waktu setempat.
- Bersama adiknya, Robert Budi Hartono, ia sukses membesarkan pabrik rokok Djarum sejak 1963 dan mengekspansi bisnisnya ke berbagai sektor, mulai dari mendirikan Polytron (1975), mengambil alih Bank BCA pasca-krisis 1998, hingga berinvestasi di perusahaan digital melalui GDP Venture.
- Di balik kekayaan finansial dan status konglomeratnya, mendiang Michael sangat dikenal karena gaya hidupnya yang sederhana, seperti gemar mengenakan pakaian kasual polo dan makan di warung tenda kaki lima langganannya di Semarang.

Dunia bisnis Tanah Air tengah berduka. Pengusaha nasional sekaligus salah satu orang terkaya di Indonesia, Michael Bambang Hartono, dikabarkan telah tutup usia. Pemilik raksasa bisnis Grup Djarum dan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) tersebut menghembuskan napas terakhirnya di Singapura pada hari Kamis (19/3/2026).
Kabar duka ini telah dikonfirmasi langsung oleh pihak manajemen perusahaan. Pria yang lahir dengan nama Oei Hwie Siang pada 2 Oktober 1939 di Kudus, Jawa Tengah ini, wafat pada pukul 13.15 waktu setempat. Kepergiannya meninggalkan warisan imperium bisnis luar biasa yang telah ia bangun dan pertahankan selama puluhan tahun bersama sang adik, Robert Budi Hartono.
Kiprah bisnis Bambang Hartono bermula dari titik yang tidak mudah. Ia dan adiknya harus mengambil alih kemudi pabrik rokok Djarum pasca-meninggalnya sang ayah, Oei Wie Gwan, pada tahun 1963, di tengah kondisi perusahaan yang sempat terpuruk akibat musibah kebakaran. Lewat tangan dingin kakak beradik ini, Djarum berhasil dimodernisasi hingga mampu merajai industri kretek nasional dan menembus pasar ekspor di era 1970-an. Kesuksesan ini kemudian menjadi pijakan awal bagi ekspansi bisnis mereka ke berbagai sektor strategis lainnya.
- Penyelamat BCA: Salah satu manuver bisnis paling monumental keluarga Hartono adalah mengambil alih kepemilikan Bank Central Asia (BCA) saat krisis moneter Asia 1997-1998, dan menjadikannya bank swasta terbesar di Indonesia.
- Diversifikasi Digital: Melalui GDP Venture, Grup Djarum tidak hanya berbisnis konvensional, tetapi juga mendanai startup raksasa seperti Gojek, Kaskus, hingga membawa Blibli mencatatkan IPO pada 2022.
- Kesederhanaan yang Ikonik: Meski berstatus konglomerat papan atas, Michael sangat lekat dengan citra bersahaja, terbukti dari viralnya foto ia sedang makan di warung tenda sederhana langganannya di Semarang pada tahun 2019.
Jejak ekspansi Grup Djarum di bawah kendalinya sangatlah masif dan menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Berikut adalah rangkuman pilar bisnis utama yang menjadi fondasi kekayaan Michael Bambang Hartono:
| Sektor Bisnis Utama | Nama Entitas/Merek | Tonggak Sejarah Singkat |
|---|---|---|
| Industri Rokok & Tembakau | PT Djarum | Memodernisasi perusahaan warisan keluarga pasca-krisis 1963 hingga merajai pasar ekspor. |
| Manufaktur Elektronik | Polytron | Didirikan pada tahun 1975, menandai langkah awal diversifikasi bisnis di luar rokok. |
| Layanan Perbankan | Bank Central Asia (BCA) | Diakuisisi melalui konsorsium FarIndo Investments di awal 2000-an usai hantaman krisis finansial. |
| Teknologi & Modal Ventura | GDP Venture (Blibli, tiket.com) | Masuk ke sektor digital, sukses membawa Global Digital Niaga (Blibli) meraup dana IPO jumbo di 2022. |
Kepergian Michael Bambang Hartono bukan sekadar kehilangan besar bagi dunia usaha nasional, melainkan juga menutup babak perjalanan seorang figur filantropis yang mengajarkan bahwa pencapaian materi tidak harus merenggut kesederhanaan dan kenyamanan dalam menjalani hidup.



