Kronologi Medis Andrie Yunus di RSCM: Luka Bakar 20 Persen dan Ancaman Kebutaan Permanen
Baca dalam 60 detik
- RSCM mengonfirmasi bahwa Andrie Yunus (27) mengalami luka bakar kimia tingkat lanjut pada 20 persen permukaan tubuhnya, dengan kerusakan paling kritis terjadi pada kornea mata kanan.
- Pasien menjalani tindakan darurat berupa irigasi ekstensif untuk menetralisir zat asam, dilanjutkan dengan transplantasi membran amnion pada mata untuk menyelamatkan struktur penglihatan yang tersisa.
- Kondisi vital pasien saat ini telah stabil dan dirawat di HCU luka bakar, namun tim dokter masih melakukan evaluasi jangka panjang terkait kemungkinan rekonstruksi jaringan dan pemulihan fungsi visual.

Jakarta – RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) merilis perkembangan terkini kondisi pasien AY (27), yang diidentifikasi sebagai Andrie Yunus, pasca-terpapar cairan kimia keras. Manajemen rumah sakit memastikan bahwa korban mengalami luka bakar kimiawi pada sekitar 20 persen luas permukaan tubuh, dengan trauma paling serius terfokus pada mata kanan yang terindikasi mengalami kerusakan kornea derajat tiga. Pasien tiba di Instalasi Gawat Darurat pada Jumat (13/3) dini hari dalam keadaan darurat dan segera mendapat penanganan stabilisasi.
Analisis: Penanganan Multi-Tahap pada Trauma Kimia Kompleks
Dari sisi protokol medis, tindakan irigasi segera yang dilakukan tim IGD menjadi krusial untuk menghentikan reaksi berantai zat asam terhadap jaringan kulit. Manajer Hukum dan Humas RSCM, Yoga Nara, menjelaskan bahwa pemeriksaan pH mengonfirmasi adanya agen korosif, yang memicu inflamasi hebat pada area wajah, leher, dada, punggung, dan kedua lengan. Angka 20 persen luka bakar ini, meski tidak termasuk kategori kritis secara sistemik, tetap memerlukan perawatan intensif karena lokasinya yang mengenai area vital dan estetik.
Titik kritis penanganan saat ini berpusat pada upaya penyelamatan fungsi penglihatan pasien. RSCM mencatat adanya trauma kimia pada okular kanan dengan derajat keparahan tertinggi pada fase akut, yang mengindikasikan penetrasi zat asam telah mencapai lapisan dalam kornea. Tindakan transplantasi membran amnion yang dilakukan bukan sekadar prosedur rutin, melainkan upaya rekonstruktif untuk membangun kembali permukaan mata yang rusak sekaligus menekan risiko kebutaan permanen. Keberadaan tim multidisiplin—yang melibatkan spesialis mata, bedah plastik, dan emergensi—menunjukkan kompleksitas kasus ini yang tidak bisa ditangani secara segmental.
Secara klinis, meskipun kondisi umum pasien telah dinyatakan stabil dan tidak mengancam jiwa, perjalanan pemulihan masih panjang. Fokus perawatan kini bergeser pada fase regeneratif, di mana tim medis memberikan terapi suportif berupa antibiotik, anti-inflamasi, vitamin, serta regulasi tekanan bola mata untuk mencegah komplikasi glaukoma sekunder. Yang menjadi perhatian khusus adalah potensi perlunya tindakan rekonstruksi jaringan lebih lanjut, baik untuk fungsi maupun estetika, mengingat lokasi luka yang dominan di area wajah.
"Pasien menjalani tindakan pembersihan jaringan yang rusak pada mata kanan serta transplantasi membran amnion guna melindungi permukaan mata dan mendukung proses penyembuhan," jelas Yoga Nara dalam keterangan resminya.
Proyeksi: Jangka Panjang Pemulihan dan Rekonstruksi
Ke depan, tim medis RSCM masih akan melakukan evaluasi bertahap terhadap respons pasien terhadap terapi yang diberikan. Fase kritis berikutnya adalah menentukan sejauh mana fungsi penglihatan dapat dipulihkan, mengingat derajat kerusakan kornea yang parah. Jika regenerasi jaringan tidak optimal, bukan tidak mungkin pasien memerlukan prosedur keratoplasti atau bahkan rehabilitasi visual jangka panjang. Dari sisi layanan publik, kasus ini juga menjadi pengingat akan pentingnya protokol keselamatan dalam menangani bahan kimia, serta kesiapan fasilitas rujukan nasional dalam menghadapi trauma kompleks semacam ini.



