Dedi Mulyadi Berduka Atas Tewasnya Siswa SMAN 5 Bandung, Tekankan Pengawasan Ekstra Orang Tua
Baca dalam 60 detik
- Tokoh Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyampaikan duka cita atas insiden tragis meninggalnya seorang siswa SMAN 5 Bandung yang menjadi korban pengeroyokan di luar lingkungan sekolah.
- Dedi menegaskan bahwa pengawasan dan keselamatan anak ketika sudah berada di luar jam operasional akademik merupakan tanggung jawab penuh dari pihak orang tua, bukan institusi pendidikan.
- Publik dan pihak keluarga diimbau untuk menjadikan kasus ini sebagai pelajaran penting guna memperketat pengawasan pergaulan, membatasi jam keluar malam, dan meningkatkan komunikasi dengan anak remaja.

Tokoh masyarakat Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas insiden tragis yang menewaskan seorang siswa SMAN 5 Bandung akibat aksi pengeroyokan. Melansir laporan Kompas.com pada 15 Maret 2026, peristiwa nahas tersebut memicu keprihatinan luas terkait keamanan dan pergaulan remaja di luar lingkungan pendidikan formal. Dedi berharap kejadian ini menjadi pelajaran sekaligus evaluasi keras bagi semua pihak, terutama institusi keluarga.
Dalam pernyataannya, Dedi Mulyadi menyoroti batasan kewenangan sekolah dan pentingnya peran aktif orang tua. Ia secara tegas menyatakan bahwa pihak pendidik memiliki keterbatasan dalam mengawasi siswa setelah jam belajar-mengajar selesai. Oleh karena itu, saat siswa telah meninggalkan gerbang sekolah, tanggung jawab pengawasan, perlindungan, dan pembinaan karakter sepenuhnya beralih ke pundak orang tua masing-masing.
Terdapat beberapa poin penting dari tanggapan Dedi Mulyadi menyikapi kasus kekerasan pelajar ini:
- Tanggung Jawab Ekstra Keluarga: Dedi menekankan perlunya evaluasi pengawasan dari pihak keluarga, terutama dalam memantau aktivitas anak di luar jam sekolah, memverifikasi lingkaran pertemanan, dan menerapkan batasan waktu keluar malam.
- Komunikasi Terbuka: Insiden pengeroyokan ini dinilai sebagai alarm darurat atas kurangnya komunikasi intensif antara orang tua dan anak remajanya, yang sering kali berujung pada kebebasan pergaulan tanpa filter.
- Batas Wewenang Sekolah: Publik diimbau untuk tidak secara sepihak menyalahkan institusi pendidikan atas tragedi ini, mengingat pihak sekolah tidak memiliki kontrol operasional maupun yurisdiksi atas pergerakan siswa di luar jam akademik.
Kasus kematian siswa SMAN 5 Bandung ini tengah ditangani secara intensif oleh aparat kepolisian guna mengusut tuntas para pelaku di balik aksi pengeroyokan tersebut. Tragedi ini menjadi pengingat keras bahwa pendidikan karakter dan keselamatan anak bukanlah sekadar tugas tenaga pendidik, melainkan membutuhkan komitmen absolut dari keluarga sebagai benteng pertahanan dan pembinaan utama.
"Pendidikan dan pengawasan di luar lingkungan sekolah sepenuhnya adalah tanggung jawab orang tua. Semoga kejadian ini menjadi evaluasi bersama agar tidak ada lagi anak yang menjadi korban."



