Komisi IX DPR RI: Program Makan Bergizi Gratis Berdampak Positif pada Kesehatan dan Ekonomi Lokal
Baca dalam 60 detik
- Anggota Komisi IX DPR RI, Lucy Kurniasari, menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sangat efektif dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan dan kesejahteraan gizi masyarakat.
- Program tersebut memberikan dampak positif ganda (multiplier effect); selain terbukti menurunkan angka stunting, MBG juga membantu memberdayakan perekonomian daerah melalui keterlibatan penyedia bahan pangan lokal.
- DPR RI menyatakan komitmennya untuk terus mengawasi dan mengevaluasi program investasi SDM ini agar seluruh alokasi anggarannya dapat berjalan dengan optimal serta tepat sasaran.

Anggota Komisi IX DPR RI, Lucy Kurniasari, menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memiliki peranan krusial dalam meningkatkan taraf kesehatan sekaligus kesejahteraan masyarakat. Pernyataan tersebut disampaikannya pada kegiatan sosialisasi bersama Badan Gizi Nasional (BGN) di Desa Kalidawir, Kabupaten Sidoarjo, Minggu (15/3/2026). Berdasarkan laporan ANTARA News, inisiatif ini dinilai sebagai langkah strategis pemerintah untuk mencetak sumber daya manusia (SDM) yang unggul melalui pemenuhan gizi seimbang sejak dini.
Menanggapi sejumlah kekhawatiran yang sempat beredar di media sosial terkait efektivitas dan keamanan pelaksanaan program, Lucy meyakinkan publik bahwa tata kelola MBG tetap berjalan positif. Keterlibatan tenaga ahli di bidang gizi serta partisipasi aktif masyarakat dalam proses pengawasan diyakini mampu menjaga standar kualitas dan memitigasi potensi masalah di lapangan.
Evaluasi Komisi IX DPR RI menyoroti sejumlah manfaat berantai dari pelaksanaan program ini, antara lain:
- Pemberdayaan Sektor Pangan Lokal: Selain fokus pada perbaikan gizi, program MBG dirancang untuk menggerakkan perekonomian daerah secara langsung melalui pelibatan para penyedia bahan pangan dan UMKM setempat.
- Akselerasi Penurunan Stunting: Optimalisasi asupan gizi harian melalui program ini telah terbukti secara nyata berkontribusi terhadap percepatan penurunan angka stunting (tengkes), sebagaimana yang telah dicapai di wilayah Surabaya.
- Target Sasaran Inklusif: Cakupan program ini dirancang sangat luas, tidak hanya diperuntukkan bagi peserta didik dan santri, tetapi juga mengakomodasi kelompok nonpeserta didik yang rentan, seperti ibu hamil, ibu menyusui, hingga anak balita.
Sebagai instrumen legislatif, DPR RI berkomitmen untuk terus mengawal kelancaran program ini melalui fungsi persetujuan anggaran dan pengawasan yang ketat. Sinergi yang kuat antara pemerintah pusat, badan terkait, dan elemen masyarakat menjadi syarat mutlak agar program berskala nasional ini dapat dieksekusi secara optimal dan tepat sasaran.
"Program ini merupakan investasi besar bagi masa depan bangsa. Dengan pemenuhan gizi yang baik, kita dapat memperkuat pembangunan sumber daya manusia Indonesia."



