Ekonomi RI Diklaim Tangguh! Airlangga Lapor ke Prabowo Soal Utang Rendah & Cadangan Devisa Kuat
Baca dalam 60 detik
- Menko Perekonomian Airlangga Hartarto melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa kondisi ekonomi makro Indonesia saat ini sangat stabil di tengah ketidakpastian global.
- Pertumbuhan ekonomi nasional masih ditopang kuat oleh tingginya konsumsi domestik, sementara rasio utang luar negeri diklaim masih dalam batas aman di bawah 30 persen dari PDB.
- Stabilitas ini juga didukung oleh cadangan devisa yang kuat mencapai 150 miliar dolar AS, lonjakan ekspor komoditas, serta peran aktif APBN dalam menjaga daya beli masyarakat melalui bansos dan THR.

Halo, para pengamat ekonomi makro dan sobat cuan! Di tengah guncangan ekonomi global yang kadang bikin jantungan, ada kabar cukup melegakan dari Istana Negara. Melansir rilis resmi dari PresidenRI.go.id pada 13 Maret 2026, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto baru saja memberikan laporan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto terkait ketahanan ekonomi nasional kita.
Dalam Sidang Kabinet Paripurna tersebut, Airlangga mengklaim bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih sangat stabil dan solid. Salah satu "cheat code" alias penopang utama pertumbuhan ekonomi kita adalah tingginya angka konsumsi domestik. Menurut data yang dipaparkan, konsumsi rumah tangga sukses menyumbang hingga 54 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) dengan Mandiri Spending Index yang bertengger di angka 360,7.
Buat kamu yang butuh data konkretnya, ini rangkuman laporannya:
- Rasio Utang Terkendali: Utang luar negeri Indonesia saat ini masih di bawah ambang batas bahaya, yakni hanya di kisaran 29,9 persen dari total PDB.
- Devisa & Ekspor Moncer: Cadangan devisa menyentuh angka lebih dari 150 miliar dolar AS, didorong oleh surplus ekspor komoditas andalan seperti batu bara, karet, dan nikel yang sukses mencetak nilai 47 miliar USD.
- Sinergi APBN & LCS: Penggunaan Local Currency Settlement (LCS) meningkat tajam menjadi 25,56 miliar, sementara APBN terus disalurkan sebagai shock absorber lewat bansos 11,92 triliun dan THR sekitar 40 triliun.
Selain performa makro yang kuat, pemerintah juga memproyeksikan peningkatan pendapatan negara dari sektor pajak yang biasanya memuncak pada momen pelaporan bulan Maret ini. Dengan strategi mitigasi yang sudah berjalan, stabilitas ekonomi nasional diharapkan bisa terus jadi perisai andalan buat nangkis berbagai manuver krisis keuangan di tingkat global. Jadi, nggak perlu panik berlebihan, tapi tetap wajib atur arus kas pribadi dengan bijak ya!
"Ketika dinamika global semakin tak tertebak, pasar domestik yang kuat adalah jaring pengaman paling logis untuk menjaga agar kapal ekonomi tidak oleng."



