Pihak berwenang Angkatan Laut India mengonfirmasi peluncuran operasi Pencarian dan Penyelamatan (SAR) skala besar pasca menerima sinyal darurat dari Sri Lanka terkait karamnya kapal perang Iran, IRIS Dena, yang dihantam serangan torpedo Amerika Serikat pada Selasa (3/3/2026) di lepas pantai selatan Asia.
Intervensi militer India ini menyoroti peran strategis New Delhi sebagai penjamin keamanan regional di Samudra Hindia. Angkatan Laut India memproyeksikan kekuatan udara dan lautnya segera setelah Maritime Rescue and Coordination Centre (MRCC) di Kolombo menerima panggilan distres pada dini hari tanggal 4 Maret. Respons cepat ini dimulai dengan pengerahan pesawat patroli maritim jarak jauh pada Rabu pagi pukul 10.00 waktu setempat guna memperkuat kapasitas pencarian otoritas Sri Lanka.
Secara teknis, penenggelaman IRIS Dena menandai eskalasi militer yang sangat serius dalam hubungan Washington-Teheran. Kapal perang tersebut dilaporkan hancur akibat serangan torpedo presisi Amerika Serikat, sebuah tindakan yang dilakukan dalam kerangka operasi gabungan antara Amerika Serikat dan Israel. Langkah ofensif ini didasarkan pada kekhawatiran mendalam atas kemajuan program nuklir Iran, yang oleh Tel Aviv dan Washington dinilai telah mencapai ambang batas yang mengancam stabilitas kawasan dan keberadaan Israel.
- Aset Terdampak: Fregat IRIS Dena milik Angkatan Laut Iran.
- Lokasi Kejadian: Lepas pantai Sri Lanka (Samudra Hindia).
- Penyebab Utama: Serangan torpedo Angkatan Laut Amerika Serikat.
- Estimasi Korban: 87 personel dikonfirmasi gugur; 61 personel dalam pencarian.
- Unit Penyelamat India: Kapal INS Tarangini, INS Ikshak, dan Pesawat Patroli Jarak Jauh.
Di lokasi kejadian, kapal latih India INS Tarangini yang berada di sekitar area tersebut langsung dikerahkan untuk membantu proses evakuasi. AL India menyatakan bahwa INS Tarangini tiba di titik koordinat pencarian sekitar pukul 16.00 hari Rabu, menyusul dimulainya operasi oleh otoritas Sri Lanka. Tak berselang lama, AL India juga memberangkatkan INS Ikshak dari Kochi guna memberikan dukungan logistik dan sensor tambahan dalam mencari 61 awak kapal yang hingga kini belum ditemukan di perairan yang luas tersebut.
Ketegangan diplomasi diperkirakan akan memuncak seiring dengan pengakuan Teheran yang bersikeras bahwa aktivitas nuklirnya murni untuk kepentingan sipil, berlawanan dengan intelijen Barat yang mencurigai adanya ambisi persenjataan. Namun, penyerangan langsung terhadap kapal perang berbendera kedaulatan di perairan internasional atau zona ekonomi eksklusif menciptakan preseden baru yang dapat mengganggu alur perdagangan global dan keamanan navigasi maritim di masa mendatang.
| Timeline Peristiwa | Aktivitas Operasional | Keterangan Aset |
|---|---|---|
| 3 Maret 2026 | Serangan torpedo Amerika Serikat terhadap IRIS Dena. | Aksi ofensif di lepas pantai Sri Lanka. |
| 4 Maret (Dini Hari) | Panggilan darurat diterima oleh MRCC Kolombo. | Koordinasi awal Sri Lanka - India. |
| 4 Maret (10:00 WIB) | AL India mengerahkan pesawat patroli maritim jarak jauh. | Pencarian udara dan penguatan deteksi. |
| 4 Maret (16:00 WIB) | INS Tarangini mencapai lokasi pencarian. | Operasi penyelamatan fisik di laut dimulai. |
Meninjau prospek ke depan, insiden ini diprediksi akan memicu restrukturisasi pakta keamanan di kawasan Samudra Hindia. Respons India yang cepat menunjukkan komitmen New Delhi sebagai kekuatan penyeimbang, namun posisi terjepit di antara kepentingan blok Barat dan stabilitas regional tetap menjadi tantangan diplomatis yang berat. Komunitas internasional kini menantikan apakah Teheran akan melakukan pembalasan simetris atau menempuh jalur hukum maritim internasional untuk memprotes penghancuran IRIS Dena.




