Mayoritas Etnis Yahudi Dukung Penggulingan Rezim Iran
Baca dalam 60 detik
- Dukungan Militer Masif: Sebanyak 93% responden Yahudi mendukung penuh "Operasi Roaring Lion," dengan mayoritas mendesak kelanjutan agresi hingga kejatuhan pemerintahan Teheran.
- Kesenjangan Keamanan: Terdapat disparitas drastis dalam rasa aman; 74% warga Yahudi merasa terlindungi dari rudal Iran, berbanding terbalik dengan warga Arab yang hanya menyentuh angka 15%.
- Legitimasi Kepemimpinan: Kepercayaan terhadap Benjamin Netanyahu mencapai level tinggi di kalangan kanan (85%), sementara faktor infrastruktur perlindungan menjadi pembeda utama persepsi keselamatan antar-etnis.

Survei terbaru dari Israel Democracy Institute (IDI) yang dirilis pada awal Maret 2026 menyoroti polarisasi tajam dan konsensus militeristik di dalam masyarakat Israel terkait konflik dengan Iran. Di tengah berjalannya Operasi Roaring Lion, mayoritas mutlak populasi Yahudi tidak hanya mendukung penghancuran aset nuklir, tetapi juga memproyeksikan berakhirnya kekuasaan Republik Islam Iran sebagai target akhir yang tak terelakkan.
Data menunjukkan bahwa agresi militer terhadap Iran mendapatkan legitimasi luas di spektrum politik Yahudi, mencapai 82% dukungan secara total nasional. Namun, angka ini menyimpan dinamika internal yang kontras: sementara blok sayap kanan memberikan dukungan hampir bulat (97%), komunitas Arab di Israel menunjukkan resistensi signifikan dengan tingkat dukungan hanya sebesar 26%. Perbedaan ini mencerminkan kompleksitas identitas dan persepsi risiko yang berbeda dalam menghadapi eskalasi regional yang kian memanas.
- Dukungan Sektoral: 93% warga Yahudi mendukung operasi vs 26% warga Arab.
- Tujuan Akhir: 57% warga Yahudi menuntut keberlanjutan perang hingga *regime change* di Teheran.
- Kepercayaan Pemimpin: 74% warga Yahudi memercayai Netanyahu dalam mengelola perang.
- Faktor AS: 64% responden Yahudi yakin Donald Trump memprioritaskan keamanan Israel dalam kebijakannya.
Isu mengenai durasi konflik menjadi titik perdebatan strategis. Sebagian besar responden Yahudi (57%) menilai bahwa keberhasilan militer saja—seperti eliminasi kapabilitas rudal balistik dan nuklir—tidaklah cukup tanpa adanya perubahan peta politik di Iran. Sebaliknya, publik Arab cenderung lebih berhati-hati dengan 52% responden menyatakan ketidakpastian mengenai arah operasi tersebut. Tren ini berkorelasi dengan kebijakan pertahanan aktif yang diadopsi oleh kabinet Netanyahu, yang semakin sering mengintegrasikan narasi pembebasan rakyat Iran dari tirani sebagai bagian dari tujuan strategis nasional.
Aspek perlindungan sipil juga menyingkap kerentanan infrastruktur yang sistemik. Tingginya rasa aman di kalangan Yahudi (74%) berakar pada ketersediaan ruang aman (shelter) yang memadai di pemukiman mereka. Hal ini berbanding terbalik dengan komunitas Arab, di mana laporan tahun 2025 memperingatkan bahwa 46% penduduk di sektor tersebut tidak memiliki akses ke bunker yang sesuai standar. Ketimpangan ini menciptakan perbedaan persepsi keselamatan yang mencolok saat serangan rudal balistik Iran terjadi secara periodik.
| Metrik Keamanan & Kepercayaan | Responden Yahudi | Responden Arab |
|---|---|---|
| Dukungan Terhadap Operasi Militer | 93% | 26% |
| Kepercayaan pada PM Netanyahu | 74% | 16% |
| Merasa Terlindungi dari Serangan Rudal | 74% | 15% |
| Yakin Keamanan Israel Jadi Prioritas AS | 64% | 43% |
Melihat dinamika ini, kebijakan luar negeri Israel diprediksi akan semakin agresif seiring dengan meningkatnya dukungan domestik untuk perubahan rezim di Iran. Tantangan terbesar bagi pemerintah ke depan bukan hanya memenangkan pertempuran di garis depan, melainkan menutup celah kerentanan sipil di dalam negeri guna menjaga kohesi sosial tetap utuh selama masa perang yang berkepanjangan.



