Menang di medan perang adalah satu hal, tetapi mengelola perdamaian setelahnya adalah teka-teki yang tampaknya belum terpecahkan oleh Gedung Putih saat ini.
Berdasarkan analisis yang dilaporkan oleh India Today, Mehdi Hasan memberikan peringatan keras mengenai dinamika kekuasaan di Washington di tahun 2026. Kritik Hasan berpusat pada paradoks kebijakan Trump: keinginan untuk menghindari "perang selamanya" (forever wars) namun di saat yang sama mengambil langkah-langkah yang secara teknis memicu konfrontasi langsung dengan Iran. Tanpa adanya visi tentang bagaimana perang ini harus berakhir, Hasan menilai bahwa AS hanya sedang "berjalan tidur" menuju bencana geopolitik yang lebih besar.
Poin Utama Kritik Mehdi Hasan:
- Reaktivitas vs Strategi: Kebijakan AS dinilai lebih banyak merespons serangan (seperti serangan drone di Dubai atau pangkalan RAF) tanpa agenda proaktif untuk menghentikan siklus kekerasan.
- Ketergantungan pada Israel: Strategi regional AS dianggap terlalu terikat pada keputusan militer Tel Aviv, yang mungkin memiliki target akhir yang berbeda dari kepentingan nasional Amerika.
- Biaya Ekonomi: Hasan memperingatkan bahwa perang tanpa strategi akhir akan menghancurkan ekonomi global melalui disrupsi jalur minyak di Teluk, terlepas dari "asuransi keamanan" yang dijanjikan Trump.
Secara objektif, pandangan Hasan mencerminkan kegelisahan sebagian pakar kebijakan luar negeri yang melihat bahwa diplomasi telah dikesampingkan sepenuhnya di tahun 2026. Sementara Trump tetap pada retorika "Peace through Strength", tantangan terbesarnya adalah membuktikan bahwa kekuatan tersebut benar-benar bisa menghasilkan stabilitas, bukan sekadar kebuntuan militer yang mahal. Fokus internasional kini menanti apakah Gedung Putih akan merilis kerangka kerja diplomatik baru untuk meredam ketegangan sebelum situasi menjadi tak terkendali.




