Ketika dua ideologi yang berseberangan bertemu di panggung dunia, "Hubungan Spesial" antara AS dan Inggris kini menghadapi ujian ketahanan yang paling berat.
Berdasarkan laporan dari The New Daily, ketegangan antara Presiden Trump dan PM Keir Starmer telah meledak menjadi konfrontasi publik yang jarang terjadi. Di tahun 2026 ini, Trump tidak lagi menyembunyikan rasa frustrasinya terhadap pendekatan Starmer yang dianggap terlalu diplomatis dan lambat dalam merespons krisis di Teluk. Kritik ini bukan sekadar retorika; ini adalah tekanan sistemik agar Inggris melepaskan sebagian besar ambiguitas kebijakan luar negerinya dan sepenuhnya mendukung visi ekonomi serta militer Amerika Serikat.
Titik Api Hubungan Trump-Starmer:
- Anggaran Militer: Trump menuntut Inggris segera mencapai target 3% dari PDB untuk pertahanan, jauh di atas standar minimum NATO saat ini.
- Kebijakan China: Washington mendesak London untuk mengambil posisi yang lebih keras terhadap teknologi dan investasi China, yang dianggap Trump sebagai ancaman keamanan nasional bersama.
- Ketegangan Personal: Perbedaan gaya kepemimpinan antara nasionalisme populis Trump dan pragmatisme teknokratis Starmer menciptakan hambatan komunikasi di tingkat tertinggi.
Secara objektif, serangan verbal ini menempatkan pemerintah Partai Buruh Inggris dalam posisi yang sangat sulit. Starmer harus mempertahankan kedaulatan kebijakan luar negeri Inggris tanpa mengasingkan mitra dagang dan keamanan terbesarnya. Di tahun 2026 ini, di tengah meningkatnya ketidakpastian di Eropa dan Timur Tengah, perpecahan antara Washington dan London bisa melemahkan koalisi Barat secara keseluruhan. Fokus pengamat kini tertuju pada apakah akan ada pertemuan rekonsiliasi atau justru eskalasi sanksi perdagangan dari pihak AS.




