Di dasar samudra dan di bawah lapisan es, terdapat warisan mematikan dari Perang Dingin yang tetap menjadi "hantu" bagi keamanan global hingga hari ini.
Berdasarkan laporan investigasi dari B92, pengungkapan mengenai 11 bom nuklir yang hilang ini memberikan perspektif baru tentang betapa berbahayanya manajemen persenjataan nuklir di masa lalu. Sebagian besar insiden terjadi selama penerbangan rutin atau latihan militer antara tahun 1950 hingga 1980. Dalam beberapa kasus, pilot terpaksa membuang muatan nuklir mereka ke laut karena kegagalan mesin pesawat guna mencegah ledakan saat mendarat darurat. Ironisnya, hingga tahun 2026 ini, teknologi pencarian bawah laut tercanggih sekalipun masih kesulitan menemukan beberapa hulu ledak yang tenggelam di kedalaman ekstrem.
Kasus "Broken Arrow" Paling Ikonik:
- Tybee Island (1958): Sebuah bom hidrogen Mark 15 dijatuhkan di lepas pantai Georgia setelah tabrakan di udara. Bom ini masih tertimbun di bawah lapisan lumpur laut hingga saat ini.
- Goldsboro (1961): Dua bom nuklir jatuh di North Carolina setelah pesawat B-52 pecah. Salah satu bom hampir meledak, sementara inti nuklir dari bom lainnya terkubur sangat dalam di tanah rawa.
- Palomares (1966): Kecelakaan di Spanyol yang melibatkan empat bom nuklir. Meskipun sebagian besar ditemukan, pembersihan radioaktif di wilayah tersebut masih berlanjut hingga dekade ini.
Secara objektif, militer AS mengeklaim bahwa tanpa kode pemicu yang aktif dan karena desain keamanan mekanis yang rumit, bom-bom yang hilang ini tidak dapat meledak secara nuklir secara tidak sengaja. Namun, risiko kontaminasi lingkungan tetap nyata. Di tahun 2026 ini, dengan meningkatnya ketegangan global, transparansi mengenai lokasi-lokasi potensial bom yang hilang ini menjadi krusial agar tidak disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab jika mereka berhasil menemukannya lebih dulu.




