Meskipun terpisah ribuan kilometer dari pusat ledakan, Asia Tenggara merasakan getaran perang Iran melalui jalur ekonomi dan keselamatan warga negaranya yang berada di garis depan.
Berdasarkan ulasan dari The Diplomat, respons Asia Tenggara terhadap krisis Iran tahun 2026 mencerminkan pragmatisme yang mendalam. Kawasan ini tidak hanya khawatir tentang geopolitik, tetapi secara langsung terpapar pada risiko ekonomi makro. Kenaikan harga minyak global yang dipicu oleh ancaman di Selat Hormuz memaksa bank sentral di Jakarta, Manila, dan Bangkok untuk mempertimbangkan kebijakan moneter yang lebih ketat guna meredam dampak kenaikan harga bahan bakar dan logistik. Di sisi lain, solidaritas antar-negara Muslim di kawasan juga menjadi faktor penentu dalam nada diplomatik yang diambil terhadap keterlibatan Barat di konflik tersebut.
Tiga Pilar Strategi ASEAN:
- Mitigasi Rantai Pasok: Upaya diversifikasi sumber energi dari luar Timur Tengah, termasuk peningkatan impor dari Rusia, Asia Tengah, dan peningkatan produksi domestik.
- Perlindungan Warga Negara: Satuan tugas khusus dibentuk untuk memonitor keselamatan lebih dari satu juta pekerja migran di kawasan Teluk Arab yang kini berada dalam jangkauan rudal Iran.
- Forum Regional: Pengaktifan mekanisme komunikasi darurat di bawah kerangka ASEAN Regional Forum (ARF) untuk mencegah ketegangan ini memicu perpecahan internal antar-anggota.
Secara objektif, tahun 2026 menjadi ujian bagi sentralitas ASEAN. Kemampuan kawasan ini untuk tetap bersatu dalam menghadapi tekanan ekonomi dan diplomatik dari blok Barat maupun Iran akan menentukan posisi tawar Asia Tenggara di panggung global pasca-perang. Fokus saat ini tetap pada pencegahan dampak sosial di dalam negeri akibat guncangan harga komoditas yang diperkirakan akan terus berfluktuasi seiring dengan perkembangan di medan tempur Timur Tengah.




