Geopolitik Timur Tengah berada di titik nadir. Saat perhatian dunia tertuju pada Dubai, Damaskus kembali menjadi medan tempur udara dalam konfrontasi yang semakin tidak terkendali.
Berdasarkan laporan dari kantor berita resmi Suriah, SANA, per 1 Maret 2026, agresi udara Israel kembali menghantam wilayah kedaulatan Suriah. Serangan yang diluncurkan pada dini hari tersebut menargetkan instalasi yang diduga memiliki keterkaitan dengan jalur suplai militer regional. Pertahanan udara Suriah segera bereaksi dengan menembakkan rudal pencegat (S-300/Buk-M2) untuk meminimalkan dampak. Insiden ini mempertegas pola "perang antar perang" (war between wars) yang dijalankan Israel untuk membatasi pengaruh militer lawan di perbatasannya, terutama di tengah kekacauan besar yang saat ini melanda Uni Emirat Arab.
Analisis Geopolitik 1 Maret 2026:
- Front Ganda: Israel tampaknya memanfaatkan momentum kekacauan di Teluk (akibat serangan Iran ke Dubai) untuk menetralisir target-target strategis di Suriah.
- Ketegangan Udara: Penggunaan wilayah udara Lebanon dan Golan oleh jet tempur Israel meningkatkan risiko konfrontasi langsung dengan pasukan penjaga perdamaian dan aset militer pihak ketiga.
- Kemanusiaan: Ledakan di pemukiman sekitar Damaskus memicu trauma baru bagi penduduk sipil yang sudah menderita akibat konflik berkepanjangan.
Secara objektif, serangan di Damaskus ini menutup akses diplomasi yang tersisa di kawasan. Dengan hancurnya infrastruktur di Dubai dan serangan terus-menerus di Suriah, rute perdagangan dan logistik antara Asia dan Eropa kini benar-benar terputus. Dunia internasional kini menanti apakah Rusia atau Amerika Serikat akan melakukan intervensi langsung untuk meredam api yang menyebar dari Mediterania hingga Teluk Persia ini.




