Menjelang dimulainya musim 2026, jagat Formula 1 dipenuhi spekulasi mengenai siapa yang akan menaklukkan regulasi teknis paling radikal dalam satu dekade terakhir. Dengan integrasi tenaga elektrik yang mencapai 50% dan bahan bakar berkelanjutan, prediksi juara kini tidak lagi hanya soal aerodinamika, melainkan efisiensi termal dan manajemen energi.
Analis dari Motorsport.com melihat adanya peluang besar bagi Scuderia Ferrari untuk kembali ke puncak. Keputusan mereka untuk memulai pengembangan unit daya lebih awal dan keberhasilan merekrut Lewis Hamilton dianggap sebagai kombinasi mematikan. Namun, Mercedes tidak bisa diremehkan; sejarah membuktikan mereka selalu dominan setiap kali ada perubahan besar pada regulasi mesin, seperti yang terjadi pada tahun 2014.
| Kategori | Unggulan Utama | Kuda Hitam |
|---|---|---|
| Juara Konstruktor | Ferrari / Mercedes | Aston Martin Honda |
| Juara Dunia Pembalap | Max Verstappen / Lewis Hamilton | Lando Norris / George Russell |
| Tim Paling Berkembang | Audi F1 Team | Williams Racing |
Bagi Red Bull Racing, musim 2026 adalah pertaruhan terbesar dalam sejarah tim. Untuk pertama kalinya, mereka akan membalap dengan mesin hasil produksi divisi internal mereka sendiri, Red Bull Powertrains, dengan dukungan teknis Ford. Jika mereka berhasil, Max Verstappen akan mengukuhkan statusnya sebagai legenda tak tertandingi. Namun, jika mereka kesulitan, kita mungkin akan melihat migrasi besar-besaran talenta teknis dari Milton Keynes ke tim rival.
Sementara itu, kehadiran Audi memberikan warna baru. Meskipun diprediksi akan mengalami masa transisi yang sulit di tahun pertama, sumber daya finansial dan teknis Jerman tersebut menjadikan mereka ancaman jangka panjang yang sangat diperhitungkan. Prediksi akhir menunjukkan bahwa musim 2026 akan menjadi pertarungan tiga arah yang jauh lebih ketat dibandingkan era dominasi Red Bull sebelumnya, memberikan angin segar bagi para penggemar yang merindukan drama perebutan gelar hingga seri terakhir.




